Sekumpulan puisi karya Rg Bagus Warsono, dkk. Mengetengahkan suasana saum Ramadhan di Negeri ini. Puisi puisi karya penyair dalam mengisi kegiatan Ramadhan . Selamat membaca
Selasa, 11 Agustus 2015
Penyair di antologi Surau Kampung Gelatik
Penyair : Rg Bagus Warsono, dkk
Daftar Penyair Pendukung Antologi
1. Budhi Setyawan, Bekasi.
2. Bagus Setyoko Purwo , Jakarta
3. Dian Rusdiana, Bekasi.
4. Bambang Widiatmoko, Jakarta.
5. Heru Mugiarso, Semarang.
6. Ayid Suyitno PS, Bekasi.
7. Aloeth Pathi, Margoyoso-Pati.
8. Osratus, Sorong Papua.
9. Andrian Eksa,Boyolali.
10.Syarif hidayatullah, Banjarmasin Timur.
11.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , Tangerang Selatan.
12.Mahbub Junaedi, Brebes .
13.NURAINI , Solo.
14.Ali Syamsudin Arsi,Banjarbaru.
15.Hasan Bisri BFC , Bogor.
16.Riswo Mulyadi, Banyumas Jawa Tengah.
17.Eddie MNS Soemanto, kelahiran Padang
18.Aris Rahman Yusuf Mojokerto, Jawa Timur.
19.ARIF KHILA, Pati.
20.Nani Tandjung, Jakarta.
21.Kurnia Fajar, Wonogiri.
___________
Daftar Penyair Pendukung Antologi
1. Budhi Setyawan, Bekasi.
2. Bagus Setyoko Purwo , Jakarta
3. Dian Rusdiana, Bekasi.
4. Bambang Widiatmoko, Jakarta.
5. Heru Mugiarso, Semarang.
6. Ayid Suyitno PS, Bekasi.
7. Aloeth Pathi, Margoyoso-Pati.
8. Osratus, Sorong Papua.
9. Andrian Eksa,Boyolali.
10.Syarif hidayatullah, Banjarmasin Timur.
11.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , Tangerang Selatan.
12.Mahbub Junaedi, Brebes .
13.NURAINI , Solo.
14.Ali Syamsudin Arsi,Banjarbaru.
15.Hasan Bisri BFC , Bogor.
16.Riswo Mulyadi, Banyumas Jawa Tengah.
17.Eddie MNS Soemanto, kelahiran Padang
18.Aris Rahman Yusuf Mojokerto, Jawa Timur.
19.ARIF KHILA, Pati.
20.Nani Tandjung, Jakarta.
21.Kurnia Fajar, Wonogiri.
___________
Daftar Isi
Daftar Isi
1.Mushola kecil di kampung gelatik..................
2.Tiga orang dalam satu sajadah......................
3.Kubah pesegi dengan memolo alumunium....
4.Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu
Lahap............................................................
5.Asap empal gentong......................................
6.Kunanti tajilmu.............................................
7.Panjangkan RamadhanMu............................
8.Damai di buah hati terpejam........................
9.Di wajah terpejam istri ................................
10.Kuganti sampulku ......................................
11.Selera mimpi indahmu.................................
12.Berjajar sepanjang tikar.............................
13.Gadis berkerudung......................................
14.Damai di musholah senja............................
15.Masih ada hari esok.....................................
16.Bersyukur atas nikmat Kau berikan...........
17.Di 10 Hari ketiga..........................................
18.Tunggu aku di Lempuyangan......................
19.Puasaku........................................................
20.Surga Ramadhan........................................
21.Kerinduanku................................................
22.Terjepit di Surau..........................................
23.Metamorfosis Ramadhan............................
24.Di Pagi yang Basah....................................
25.Menjelang Subuh.........................................
26. Tetes-tetes Protes, Seputih Tasbih..............
27.Ramadhan Penuh Ampunan........................
28. Ayat-Mu di kerlip Malam-Nuzulu Qur’an
29.Ramadhan ke-3............................................
30.Embun di Padang Mahsyar........................
31.Ramadhan....................................................
32.Sujud Lubang Kembali................................
33.Ingin Kedekap 1000 Bulan..........................
34.Mencari Ramadlanku...................................
35.Alangkah Berat Berpisah Denganmu..........
36.Baju Baru......................................................
37. Izinkan Aku Berperang................................
38.Siapakah Manusia Sempurna?....................
39.Saat................................................................
1.Mushola kecil di kampung gelatik..................
2.Tiga orang dalam satu sajadah......................
3.Kubah pesegi dengan memolo alumunium....
4.Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu
Lahap............................................................
5.Asap empal gentong......................................
6.Kunanti tajilmu.............................................
7.Panjangkan RamadhanMu............................
8.Damai di buah hati terpejam........................
9.Di wajah terpejam istri ................................
10.Kuganti sampulku ......................................
11.Selera mimpi indahmu.................................
12.Berjajar sepanjang tikar.............................
13.Gadis berkerudung......................................
14.Damai di musholah senja............................
15.Masih ada hari esok.....................................
16.Bersyukur atas nikmat Kau berikan...........
17.Di 10 Hari ketiga..........................................
18.Tunggu aku di Lempuyangan......................
19.Puasaku........................................................
20.Surga Ramadhan........................................
21.Kerinduanku................................................
22.Terjepit di Surau..........................................
23.Metamorfosis Ramadhan............................
24.Di Pagi yang Basah....................................
25.Menjelang Subuh.........................................
26. Tetes-tetes Protes, Seputih Tasbih..............
27.Ramadhan Penuh Ampunan........................
28. Ayat-Mu di kerlip Malam-Nuzulu Qur’an
29.Ramadhan ke-3............................................
30.Embun di Padang Mahsyar........................
31.Ramadhan....................................................
32.Sujud Lubang Kembali................................
33.Ingin Kedekap 1000 Bulan..........................
34.Mencari Ramadlanku...................................
35.Alangkah Berat Berpisah Denganmu..........
36.Baju Baru......................................................
37. Izinkan Aku Berperang................................
38.Siapakah Manusia Sempurna?....................
39.Saat................................................................
Pengantar penulis Surau Kampung Gelatik
Pengantar
Asalammualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Sajian syair-syair Ramadhan pada 1436 H yang sengaja ditulis sebagai bagian hidup penyair mengisi kegiatan di saat menjalankan ibadah saum Ramadhan. Puisi yang memotret kenyataan Ramadhan di Indonesia dengan penuh makna dan aneka suasana, namun juga harap.
Ingin rasanya memenuhi semua yang ada, namun tak begitu mudah menemukan inspirasi yang dapat menjadikan sebuah buku dalam satu tema tersendiri.
Buku ini pun mendapat warna penyair-penyair pendukung sebagai sorotan dari makna Ramadhan di Indonesia itu. Jadilah sebuah anologi yang dapat dinikmati pembaca di manapun. Sungguhpun demikian kami mengucapkan salam dan penghargaan bagi pembaca atas apresiasi antologi ini. Rasa syukur atas terbitnya antologi ini sebagai hikmah Ramadhan dari penyair berupa lahirnya puisi dengan judul Surau Kampung Gelatik
Wasaalam.
Penulis
Asalammualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Sajian syair-syair Ramadhan pada 1436 H yang sengaja ditulis sebagai bagian hidup penyair mengisi kegiatan di saat menjalankan ibadah saum Ramadhan. Puisi yang memotret kenyataan Ramadhan di Indonesia dengan penuh makna dan aneka suasana, namun juga harap.
Ingin rasanya memenuhi semua yang ada, namun tak begitu mudah menemukan inspirasi yang dapat menjadikan sebuah buku dalam satu tema tersendiri.
Buku ini pun mendapat warna penyair-penyair pendukung sebagai sorotan dari makna Ramadhan di Indonesia itu. Jadilah sebuah anologi yang dapat dinikmati pembaca di manapun. Sungguhpun demikian kami mengucapkan salam dan penghargaan bagi pembaca atas apresiasi antologi ini. Rasa syukur atas terbitnya antologi ini sebagai hikmah Ramadhan dari penyair berupa lahirnya puisi dengan judul Surau Kampung Gelatik
Wasaalam.
Penulis
Esai Surau Kampung Gelatik
Dari tarawih hingga berbuka
Oleh: Nurochman Soedibyo, Ys
Surau Kampung Glatik cukup menggelitik bagi sebuah karya puisi yang mengetengahkan suasana saum Ramadhan yang dipotret oleh kaca-mata penyairnya. Rg Bagus warsono memang patut mendapat apresiasi juga karya puisi penyair pendukung di antologi ini.
Puisi-puisi pendeknya tampak padat namun enak dibaca suguhan bacaan yang ringan dan enak dibaca, tampaknya Rg bagus Warsono tidak ingin membuat perdebatan terlalu panjang, sederhana namun berkesan saat Ramadhan itu. Seperti dalam: “Mushola kecil di kampung gelatik”:
//Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu...//
Bagaimana menggambarkan ramainya suasana ibadah disaat Ramadhan di sebuah kampung hanya sepotong bait yang pendek namun cukup luas diapresiasi. Kemudian menyoroti ramainya kuliner di bulan itu seperti dalam : “Asap empal gentong”
//di tengah tani pleret cirebon
sampai pagi
dan kulit telinga sapi
lontong habis berganti nasi
sibuknya tukang parkir
berjajar memenuhi rumah kuliner
apimu memanggil ibu malas...//
Sama halnya dengan puisi yang lain :”Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu lahap”
//...ramadhan yang penuh rezeki
gratis makan sahurmu
keringat malam dalam panasnya neon
bercampur tadharus malam
dan ketika mushola mengingatkan sahur
serta musik klasik berkeliling
majikan menyedikan makan buruhnya
piring berjajar
dengan sayur, sambal dan gesek ikan
makanmu lahap menyambut imsyak.//
Cuplikan puisi-puisi di atas rasanya cupup membuat menarik buku ini, sederhana namun juga menggelitik. Dalam
“Kunanti tajilmu” gambaran anak-anak surau di desa meyakinkan bahwa penyair ini cukup jeli menangkap situasi sosial:
//sejak bagda duhur
anak-anak memenuhi surau kecil
canda guyon mereka
sampai kopiah menutupi wajah
bunyi perut lapar
dan nafas mulut dari sarungnya
meringkuk bergelimpangan...//....
//...ketika ibu-ibu membawa nampan ke surau
bertambah yakin kebagian....//
Membuat pesona juga bagi mereka yang berada di kota besar, saat berbuka puasa di desa sungguh suatu kerinduan . Saat menangkap berbuka puasa bersama , sebuah pesona iri bagi yang tak merasakan nikmatnya suasana di perdesaan: “Berjajar sepanjang tikar”
//Membentang
dengan nasi dan sepotong ikan
sayur daun talas
sambal terasi dan timunsuri muda
menit menunggu saudara shalat magrib
berbuka puasa ala kampung gelatik
berjajar sepanjang tikar//
Bertambah lengkaplah sempurnalah antologi ini ketika tampil “Ingin Kedekap 1000 Bulan” karya Hasan Bisri BFC, “Terjepit di Surau” karya Bambang Widyatmoko, “Mencari Ramadlanku” karya Riswo Mulyadi serta karya karya dari penyair populair pendukung antologi ini.
Lalu penyair ini memberi harap “Tunggu aku di Lempuyangan”
‘’Dengan Gaya Baru Malam Selatan
merangsak menembus malam
diterjang bising roda besi beradu
menindih rel menunjukan jalanku...” Suatu untaian realis yang
diujung Ramadhan itu ada harap utuk merekat tali silaturahmi bersama keluarga , sebuah budaya oulang kampung yang tak dimiliki oleh bangsa lain.
Akhirnya sampailah kita melewati jalan berliku berkelok dan melihat “Kubah pesegi dengan memolo alumunium” dari tepi jalan sebuah surau antologi kecil :
//di atas bukit tampak dari jalan raya menuju kotamu
dua kubah anakan tampa memolo
dikerumuni rindangan pohon-pohon
Ingin segera samapai
bersama mengecat pintu
melabur kapur tembok putihmu
agar tampak dari jalan di atas bukit
masjid jami desa...//
Nurochman Soedibyo, Ys ( Seniman tingal di Tegal)
1
Rg Bagus Warsono
Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu
namun khusuk sholat
hanya suara toa kecil bercampur nafas jamaah
18-6-2015
Oleh: Nurochman Soedibyo, Ys
Surau Kampung Glatik cukup menggelitik bagi sebuah karya puisi yang mengetengahkan suasana saum Ramadhan yang dipotret oleh kaca-mata penyairnya. Rg Bagus warsono memang patut mendapat apresiasi juga karya puisi penyair pendukung di antologi ini.
Puisi-puisi pendeknya tampak padat namun enak dibaca suguhan bacaan yang ringan dan enak dibaca, tampaknya Rg bagus Warsono tidak ingin membuat perdebatan terlalu panjang, sederhana namun berkesan saat Ramadhan itu. Seperti dalam: “Mushola kecil di kampung gelatik”:
//Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu...//
Bagaimana menggambarkan ramainya suasana ibadah disaat Ramadhan di sebuah kampung hanya sepotong bait yang pendek namun cukup luas diapresiasi. Kemudian menyoroti ramainya kuliner di bulan itu seperti dalam : “Asap empal gentong”
//di tengah tani pleret cirebon
sampai pagi
dan kulit telinga sapi
lontong habis berganti nasi
sibuknya tukang parkir
berjajar memenuhi rumah kuliner
apimu memanggil ibu malas...//
Sama halnya dengan puisi yang lain :”Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu lahap”
//...ramadhan yang penuh rezeki
gratis makan sahurmu
keringat malam dalam panasnya neon
bercampur tadharus malam
dan ketika mushola mengingatkan sahur
serta musik klasik berkeliling
majikan menyedikan makan buruhnya
piring berjajar
dengan sayur, sambal dan gesek ikan
makanmu lahap menyambut imsyak.//
Cuplikan puisi-puisi di atas rasanya cupup membuat menarik buku ini, sederhana namun juga menggelitik. Dalam
“Kunanti tajilmu” gambaran anak-anak surau di desa meyakinkan bahwa penyair ini cukup jeli menangkap situasi sosial:
//sejak bagda duhur
anak-anak memenuhi surau kecil
canda guyon mereka
sampai kopiah menutupi wajah
bunyi perut lapar
dan nafas mulut dari sarungnya
meringkuk bergelimpangan...//....
//...ketika ibu-ibu membawa nampan ke surau
bertambah yakin kebagian....//
Membuat pesona juga bagi mereka yang berada di kota besar, saat berbuka puasa di desa sungguh suatu kerinduan . Saat menangkap berbuka puasa bersama , sebuah pesona iri bagi yang tak merasakan nikmatnya suasana di perdesaan: “Berjajar sepanjang tikar”
//Membentang
dengan nasi dan sepotong ikan
sayur daun talas
sambal terasi dan timunsuri muda
menit menunggu saudara shalat magrib
berbuka puasa ala kampung gelatik
berjajar sepanjang tikar//
Bertambah lengkaplah sempurnalah antologi ini ketika tampil “Ingin Kedekap 1000 Bulan” karya Hasan Bisri BFC, “Terjepit di Surau” karya Bambang Widyatmoko, “Mencari Ramadlanku” karya Riswo Mulyadi serta karya karya dari penyair populair pendukung antologi ini.
Lalu penyair ini memberi harap “Tunggu aku di Lempuyangan”
‘’Dengan Gaya Baru Malam Selatan
merangsak menembus malam
diterjang bising roda besi beradu
menindih rel menunjukan jalanku...” Suatu untaian realis yang
diujung Ramadhan itu ada harap utuk merekat tali silaturahmi bersama keluarga , sebuah budaya oulang kampung yang tak dimiliki oleh bangsa lain.
Akhirnya sampailah kita melewati jalan berliku berkelok dan melihat “Kubah pesegi dengan memolo alumunium” dari tepi jalan sebuah surau antologi kecil :
//di atas bukit tampak dari jalan raya menuju kotamu
dua kubah anakan tampa memolo
dikerumuni rindangan pohon-pohon
Ingin segera samapai
bersama mengecat pintu
melabur kapur tembok putihmu
agar tampak dari jalan di atas bukit
masjid jami desa...//
Nurochman Soedibyo, Ys ( Seniman tingal di Tegal)
1
Rg Bagus Warsono
Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu
namun khusuk sholat
hanya suara toa kecil bercampur nafas jamaah
18-6-2015
1
Rg Bagus Warsono
Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu
namun khusuk sholat
hanya suara toa kecil bercampur nafas jamaah
18-6-2015
2
Rg Bagus Warsono
Tiga orang dalam satu sajadah
dinginnya dinihari
surau kecil di sudut pemukiman
yang diberi jatah satu kapling
kami sujud mengikuti imam tua
tiga orang dalam satu sajadah
malam dingin disurau
bertahan menyangga tiangMu
Indramayu, Juni 2015
3
Rg Bagus Warsono
Kubah pesegi dengan memolo alumunium
di atas bukit tampak dari jalan raya menuju kotamu
dua kubah anakan tampa memolo
dikerumuni rindangan pohon-pohon
Ingin segera samapai
bersama mengecat pintu
melabur kapur tembok putihmu
agar tampak dari jalan di atas bukit
masjid jami desa
dengan tiang jati
menyangga kubah pesegi
tangan pemuda santri
di depan menjagamu
Indramayu, Juni 2015
4
Rg Bagus Warsono
Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu lahap
setelah tarawih di pleret tengah tani cirebon
mereka datang pada majikan
para pengrajin segala makanan
bungkus, kupas, cuci,jahit, ikat
sampai pekakas tradisional
disentra jepangnya cirebon
majikan yang baik
ramadhan yang penuh rezeki
gratis makan sahurmu
keringat malam dalam panasnya neon
bercampur tadharus malam
dan ketika mushola mengingatkan sahur
serta musik klasik berkeliling
majikan menyedikan makan buruhnya
piring berjajar
dengan sayur, sambal dan gesek ikan
makanmu lahap menyambut imsyak.
cirebon, 22-6-15
5
Rg Bagus Warsono
Asap empal gentong
di tengah tani pleret cirebon
sampai pagi
dan kulit telinga sapi
lontong habis berganti nasi
sibuknya tukang parkir
berjajar memenuhi rumah kuliner
apimu memanggil ibu malas
asapmu menyegarkan mata berkunang
menggugah selera
sahur dimana saja
makan apa saja
asap empal membawa aroma
di gentongmu penuh rupiah
rejeki ternyata ada membagi
siapa mau menghirup asap
empal gentong tengah tani pleret cirebon
dawuan 22-6-15
6
Rg Bagus Warsono
Kunanti tajilmu
sejak bagda duhur
anak-anak memenuhi surau kecil
canda guyon mereka
sampai kopiah menutupi wajah
bunyi perut lapar
dan nafas mulut dari sarungnya
meringkuk bergelimpangan
hingga ashar bercuci muka
dan makin banyaklah anak-anak itu
di surau kecil nan asri
mereka menghitung berapa banyak kiriman
makanan kecil berbuka
ketika ibu-ibu membawa nampan ke surau
bertambah yakin kebagian
dan marbot membungkus kecil tajil
mengitung berapa banyak jamaah
hanya tajil kecil
berarti bagi anak-anak
ibu-ibu kunanti tajilmu
agar suraumu ramai.
Rg Bagus Warsono, 23-6-2015
7
Rg Bagus Warsono
Panjangkan RamadhanMu
Di sebuah lampu merah
silang jalan Waiki
pemuda pemudi membagi makanan kecil
batalkan puasamu di magrib nanti
indah nian dunia di kotaku kecil ini
Di balik bak sampah
jalan pasar Tanjungpura
pengemis tua menghitung receh
semoga besok demikian ini
begitu baik penduduk Indramayu
Di sebuah perumahan
rumah para pejabat negeri
keluar dari komplek itu kaum peminta sedekah
katanya, komplek perumahan dermawan.
Di pertokoan Amad Yani,
Kaleng receh tersedia
tak ada tulisan "pengamen khusus hari jumat"
tak ada lambaian kata maaf menolak
mereka mengulurkan tangan pada pengamen jalanan
Di sebuah rumah
istri marbot masjid RW
setiap hari
makanan, beras, uang ada saja yang memberi suami
katanya panjangkan RamadhanMu !
(rg bagus warsono, 23-6-15)
8
Rg Bagus Warsono
Damai di buah hati terpejam
hampa peluk bantal
kemarin esok sama tahu apa
hanya hari di masanya
harap senang masamu kecil
Indramayu, Juni 2015
9
Rg Bagus Warsono
Di wajah terpejam istri
ada harap sesak
dan kerut klasik hari hari
penuh tanya kapan
namun ikhlas ia terpejam
sehingga tak terbaca
hanya karena kewajiban diri
di wajah terpejam
sedih melihat kapan
hanya menunggu
pagi gembira kapan
Indramayu, Juni 2015
10
Rg Bagus Warsono
Kuganti sampulku
bukan karena robek
atau kusam keringat telapak
wajah baru hati baru
orang baru yang tak asing
baru kemarin hanya sampul
menutupi isi yang makin lapuk
Indramayu, Juni 2015
11
Rg Bagus Warsono
Selera mimpi indahmu
Tersenyum adik dari petiduran
rupanya mimpi menyenangkan
sahurmu malam
selera mimpi indahmu
dan teh manis penutup makan
malam ini tumben
menyenangkan
orang lain
Indramayu, Juli 2015
Rg Bagus Warsono
Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu
namun khusuk sholat
hanya suara toa kecil bercampur nafas jamaah
18-6-2015
2
Rg Bagus Warsono
Tiga orang dalam satu sajadah
dinginnya dinihari
surau kecil di sudut pemukiman
yang diberi jatah satu kapling
kami sujud mengikuti imam tua
tiga orang dalam satu sajadah
malam dingin disurau
bertahan menyangga tiangMu
Indramayu, Juni 2015
3
Rg Bagus Warsono
Kubah pesegi dengan memolo alumunium
di atas bukit tampak dari jalan raya menuju kotamu
dua kubah anakan tampa memolo
dikerumuni rindangan pohon-pohon
Ingin segera samapai
bersama mengecat pintu
melabur kapur tembok putihmu
agar tampak dari jalan di atas bukit
masjid jami desa
dengan tiang jati
menyangga kubah pesegi
tangan pemuda santri
di depan menjagamu
Indramayu, Juni 2015
4
Rg Bagus Warsono
Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu lahap
setelah tarawih di pleret tengah tani cirebon
mereka datang pada majikan
para pengrajin segala makanan
bungkus, kupas, cuci,jahit, ikat
sampai pekakas tradisional
disentra jepangnya cirebon
majikan yang baik
ramadhan yang penuh rezeki
gratis makan sahurmu
keringat malam dalam panasnya neon
bercampur tadharus malam
dan ketika mushola mengingatkan sahur
serta musik klasik berkeliling
majikan menyedikan makan buruhnya
piring berjajar
dengan sayur, sambal dan gesek ikan
makanmu lahap menyambut imsyak.
cirebon, 22-6-15
5
Rg Bagus Warsono
Asap empal gentong
di tengah tani pleret cirebon
sampai pagi
dan kulit telinga sapi
lontong habis berganti nasi
sibuknya tukang parkir
berjajar memenuhi rumah kuliner
apimu memanggil ibu malas
asapmu menyegarkan mata berkunang
menggugah selera
sahur dimana saja
makan apa saja
asap empal membawa aroma
di gentongmu penuh rupiah
rejeki ternyata ada membagi
siapa mau menghirup asap
empal gentong tengah tani pleret cirebon
dawuan 22-6-15
6
Rg Bagus Warsono
Kunanti tajilmu
sejak bagda duhur
anak-anak memenuhi surau kecil
canda guyon mereka
sampai kopiah menutupi wajah
bunyi perut lapar
dan nafas mulut dari sarungnya
meringkuk bergelimpangan
hingga ashar bercuci muka
dan makin banyaklah anak-anak itu
di surau kecil nan asri
mereka menghitung berapa banyak kiriman
makanan kecil berbuka
ketika ibu-ibu membawa nampan ke surau
bertambah yakin kebagian
dan marbot membungkus kecil tajil
mengitung berapa banyak jamaah
hanya tajil kecil
berarti bagi anak-anak
ibu-ibu kunanti tajilmu
agar suraumu ramai.
Rg Bagus Warsono, 23-6-2015
7
Rg Bagus Warsono
Panjangkan RamadhanMu
Di sebuah lampu merah
silang jalan Waiki
pemuda pemudi membagi makanan kecil
batalkan puasamu di magrib nanti
indah nian dunia di kotaku kecil ini
Di balik bak sampah
jalan pasar Tanjungpura
pengemis tua menghitung receh
semoga besok demikian ini
begitu baik penduduk Indramayu
Di sebuah perumahan
rumah para pejabat negeri
keluar dari komplek itu kaum peminta sedekah
katanya, komplek perumahan dermawan.
Di pertokoan Amad Yani,
Kaleng receh tersedia
tak ada tulisan "pengamen khusus hari jumat"
tak ada lambaian kata maaf menolak
mereka mengulurkan tangan pada pengamen jalanan
Di sebuah rumah
istri marbot masjid RW
setiap hari
makanan, beras, uang ada saja yang memberi suami
katanya panjangkan RamadhanMu !
(rg bagus warsono, 23-6-15)
8
Rg Bagus Warsono
Damai di buah hati terpejam
hampa peluk bantal
kemarin esok sama tahu apa
hanya hari di masanya
harap senang masamu kecil
Indramayu, Juni 2015
9
Rg Bagus Warsono
Di wajah terpejam istri
ada harap sesak
dan kerut klasik hari hari
penuh tanya kapan
namun ikhlas ia terpejam
sehingga tak terbaca
hanya karena kewajiban diri
di wajah terpejam
sedih melihat kapan
hanya menunggu
pagi gembira kapan
Indramayu, Juni 2015
10
Rg Bagus Warsono
Kuganti sampulku
bukan karena robek
atau kusam keringat telapak
wajah baru hati baru
orang baru yang tak asing
baru kemarin hanya sampul
menutupi isi yang makin lapuk
Indramayu, Juni 2015
11
Rg Bagus Warsono
Selera mimpi indahmu
Tersenyum adik dari petiduran
rupanya mimpi menyenangkan
sahurmu malam
selera mimpi indahmu
dan teh manis penutup makan
malam ini tumben
menyenangkan
orang lain
Indramayu, Juli 2015
Berjajar sepanjang tikar
12
Rg Bagus Warsono
Berjajar sepanjang tikar
Membentang
dengan nasi dan sepotong ikan
sayur daun talas
sambal terasi dan timunsuri muda
menit menunggu saudara shalat magrib
berbuka puasa ala kampung gelatik
berjajar sepanjang tikar
Indramayu, Juli 2015
Rg Bagus Warsono
Berjajar sepanjang tikar
Membentang
dengan nasi dan sepotong ikan
sayur daun talas
sambal terasi dan timunsuri muda
menit menunggu saudara shalat magrib
berbuka puasa ala kampung gelatik
berjajar sepanjang tikar
Indramayu, Juli 2015
Gadis berkerudung
13
Rg Bagus Warsono
Gadis berkerudung
Gadis berkerudung
hidung mancung
pipi lesung
gigi siung
alis lengkung
dari kampung
jadi bingung
Indramayu, Juli 2015
Rg Bagus Warsono
Gadis berkerudung
Gadis berkerudung
hidung mancung
pipi lesung
gigi siung
alis lengkung
dari kampung
jadi bingung
Indramayu, Juli 2015
Damai di musholah senja
14
Rg Bagus Warsono
Damai di musholah senja
Adzan rumah kita
asap rokok, abu dan api tembakau
yang memanasi hati tersiram wudlu
damai di mushola senja
hening dari rencana kehidupan
yang kotor oleh lembar rupiah
dan ambisi
kau dan aku sama
di mushola senja
Indramayu, Juli 2015
Rg Bagus Warsono
Damai di musholah senja
Adzan rumah kita
asap rokok, abu dan api tembakau
yang memanasi hati tersiram wudlu
damai di mushola senja
hening dari rencana kehidupan
yang kotor oleh lembar rupiah
dan ambisi
kau dan aku sama
di mushola senja
Indramayu, Juli 2015
Masih ada hari esok
15
Rg Bagus Warsono
Masih ada hari esok
walau matahari tak mau tenggelam
melihat mereka yang masih mengorek-orek bak sampah
dan berebut sebungkus nasi
Tinggalkan aku di senjamu mu
masih ada hari esok
dan kita bertarung rezeki
Indramayu, Juli 2015
Rg Bagus Warsono
Masih ada hari esok
walau matahari tak mau tenggelam
melihat mereka yang masih mengorek-orek bak sampah
dan berebut sebungkus nasi
Tinggalkan aku di senjamu mu
masih ada hari esok
dan kita bertarung rezeki
Indramayu, Juli 2015
Bersyukur atas nikmat Kau berikan
16
Rg Bagus Warsono
Bersyukur atas nikmat Kau berikan
rezeki beraneka
malu aku sombong takabur
Kau memberi tanpa berkata
Kau sedekah tapi bersembunyi
Kau tak menghitung jumlah
malu aku sombong takabur
Indramayu, Juli 2015
Rg Bagus Warsono
Bersyukur atas nikmat Kau berikan
rezeki beraneka
malu aku sombong takabur
Kau memberi tanpa berkata
Kau sedekah tapi bersembunyi
Kau tak menghitung jumlah
malu aku sombong takabur
Indramayu, Juli 2015
Di 10 Hari ketiga
Rg Bagus Warsono
Di 10 Hari ketiga
Kobarkan semangat
digenggam erat senapan
ranjau-ranjau palsu
tentu tak menembak kepala
aku tembaklah hatinya
tak hamburkan amunisimu
karena perang tak berkesudahan
tebal benteng pertahanan
hitung mesiu
granat yang meronta-ronta
Indramayu, Juli 2015
Di 10 Hari ketiga
Kobarkan semangat
digenggam erat senapan
ranjau-ranjau palsu
tentu tak menembak kepala
aku tembaklah hatinya
tak hamburkan amunisimu
karena perang tak berkesudahan
tebal benteng pertahanan
hitung mesiu
granat yang meronta-ronta
Indramayu, Juli 2015
Tunggu aku di Lempuyangan
18.
Rg Bagus Warsono
Tunggu aku di Lempuyangan
Dengan Gaya Baru Malam Selatan
merangsak menembus malam
diterjang bising roda besi beradu
menindih rel menunjukan jalanku
rumah keluarga lebaran masa lalu
terpejam oleh suara lagu peluit malam
sesekali hati menghitung rupiah
untuk jumlah seisi rumah
aku harapanmu,
menjadi kebanggaan mereka
ketika satu persatu membayang wajah
kereta berhenti mengalah
masihjauhkah
tunggu aku di Lempuyangan
(12-07-15 Rg Bagus Warsonoi)
Rg Bagus Warsono
Tunggu aku di Lempuyangan
Dengan Gaya Baru Malam Selatan
merangsak menembus malam
diterjang bising roda besi beradu
menindih rel menunjukan jalanku
rumah keluarga lebaran masa lalu
terpejam oleh suara lagu peluit malam
sesekali hati menghitung rupiah
untuk jumlah seisi rumah
aku harapanmu,
menjadi kebanggaan mereka
ketika satu persatu membayang wajah
kereta berhenti mengalah
masihjauhkah
tunggu aku di Lempuyangan
(12-07-15 Rg Bagus Warsonoi)
Puisi Penyair Pendukung Surau Kampung gelatik
19.
Budhi Setyawan
Puasaku
puasaku ini adalah puasanya bumi dan langit
menunggu pesan nirmala bagi semesta
puasaku adalah puasanya jasad dan ruh
menahan dari amuk kasat dan tak kasat mata
adalah rindu tanah saat kemarau
pada hujan untuk mendaur kesuburan
adalah rindu tulang dan darah
pada sepoi kesunyian detak silam
: maka biarlah kesabaran menempuh jalannya
bersama ayat ayat yang dirapalkan musim
kepada pepohonan usia yang menggigil
mencatat daun jatuh hingga sujud penghabisan
: maka biarlah kebijakan menuntun pandang
sukma kepada pencetus rindu semula
yang kuasa menghadirkan jalinan ruang
di segala kisi angan dan penyebutan
Jakarta, 2015
20.
Bagus Setyoko Purwo
Surga Ramadhan
: tercipta untuk mereka yang dikehendaki-Nya
sabar menapaki takdir
kita tempuh keridhoan hidup dengan meneruskan ikhtiar
menyusuri lorong-lorong ramadan
terlihat di setapak perjalanan kita
di situlah surga ramadan
:sabar.ridho.tawakkal – mari kita memohon itu
2014
21.
Dian Rusdiana
Kerinduanku
berabad abad tak bersua
bilakah kudapatkan bouraq agar bisa setakat
memandang teduh wajahmu
bercakap dan kupelajari segala kearifan
kekasih, pohon rindu yang kau tanamkan
kian berkembang kesabaran
berdaun ketulusan
berbuah keridhaan
di kesyahduan ayat ayat kasih
kutumpahkan kerinduan
kumaknai pada tiap denyut nadi
di kedalaman sukma kuresapi syair syair kesejatianmu
2014
22
Bambang Widiatmoko
TERJEPIT DI SURAU
Sebuah surau terpencil di perkebunan karet
Menjepitku dalam kesendirian dan rasa sunyi
Aku mencarimu dalam rasa gelisah tak tentu arah
Dalam pengembaraan pencarian jati diri
Tapi rasa sunyi demikian menyakitkan hati
Seperti batang pohon karet yang ditoreh tubuhnya
Meski berwarna putih dialah puncak dari segala perih
Sebuah surau terpencil di atas bukit
Telah menahanku untuk berdiam diri
Menunggu Idul Fitri esok sisa embun pagi
Dengan segala keasingan dan bahasa tak kupahami
Bahkan suara burung pun terasa mengganggu
Sepanjang usia menemu lebaran dalam ruang dan waktu
Di tangan tuhan aku selalu mengamini – dialah sejatinya rindu.
2015
23
HERU MUGIARSO
METAMORFOSIS RAMADAN
Episode praramadan:
ulat bergeriap siap menelan
Apa yang tampak di depan
Nafsu aluamah tertumpah
semen dan besi pun siap dimamah
Episode ramadan:
Kepompong bergelantung
Bergeming dari kalkulasi rugi dan untung
khusuk bertapa dalam riuh dunia
disapa cahaya
Episode pascaramadan:
Indahnya ramarama
berparas jelita
kembali ke jati diri
pribadi fitri
Ramadan, 1436H
24.
Ayid Suyitno PS
DI PAGI YANG BASAH
hanya kebaikan terbayang di mata
tak ada kendala melaksanakannya
jika selama ini telah berjalan lancar
tentu kini harus lebih dipersegar
hati dan jiwa terus melangkah
menuju batas rindu kasih Allah
dalam ikhlas dan berserah
dibalut semangat pantang menyerah
di pagi yang basah
aku menghadapMu ya Allah
Ramadhan, 1436 H
25.
Aloeth Pathi
Kelingan: Saur Pertama
Menjelang Subuh
Rindu ini datang tiba-tiba
ketika suara qiro'ah mengalun dari kaset di sebuah masjid
mengingatkan ku pada Suro kecil di kampung
dan dampar tempat mengaji
Rindu ini datang tiba-tiba
Ketika jemariku menyentuh bibir gelas
lekukan piring, sendok
mengingatkan dapur ibu di masa kecilku dulu
dan meja bambu tempat saur bersama
hari ini aku makan sendirian
hanya nasi putih, sambal, tempe goreng
dan segelas air putih
Tuhan
Terima kasih atas nikmat karunia Mu
Serta rasa syukur bertemu Ramadhan
Sekarjalak, 18 Juni 2015
26.
Osratus
TETES-TETES PROTES, SEPUTIH TASBIH
“Lihatlah,
dengan mata hati yang bersih dari fitnah
Dalam butir-butir putih tasbih,
ada bening telaga takwa yang teraih
Perahu Ramadan,
antarkan kita ke surau suci di tengah telaga dengan
segenap iman. Tanpa pamrih,
rembulan malam turut antarkan kita terawih
Sandal dan sepatu baru,
bawa saja kalau kalian mau.
Dijamin tidak hilang, sampai kita pulang
Bila kita punya rencana
pindahkan surau suci itu ke tengah kampung kita,
mudah saja
Asalkan, sudah siapkah kita menjaganya
dengan melaksanakan
ibadah puasa dan
terawih sebulan penuh di Bulan Ramadan?
Selain itu, solat lima waktu meski bagus
sampai batas usia kita mengelus
Kalau tidak sakit, tidak pula keluar kampung,
selalulah solat di surau suci itu dengan mengusung
rasa beruntung sebesar gunung
Jujur yang tumbuh subur dalam diri, jangan lalu lebur
Rasa peduli, tidak boleh mati
Kerukunan, jagalah dengan baik turun temurun
Jangan mau dirangkul tahayul
Itulah syarat-syarat yang perlu diingat
Rasanya aneh ya, ikhwan dan akhwat!
Biasanya menjaga surau dilakukan bila
jam dinding, kipas angin, pengeras suara
terancam keamanannya
Bagiku, tidak aneh
Yang aneh, (sepertinya) yang merasa aneh
Di Bulan Suci, setan dibelenggu
Keamanan, terjaga sepanjang waktu
Di luar Bulan Suci, tergantung pada kita sendiri.
Makanya, surau suci itu mesti
dijaga dengan sepenuh kejujuran yang ada dalam diri,
agar jam dinding, kipas angin, pengeras suara,
tidak pergi ke mana-mana.”
Sorong, 13 Juli 2015
27.
Andrian Eksa
RAMADHAN PENUH AMPUNAN
marhaban ya ramadhan
kusambut kau dengan kesungguhan
hati bersih nan berseri
sebab kau datang menghampiri
kutahu kau adalah cinta
yang tersebar di alam semesta
meski hanya satu bulan
hadirmu itu penuh imbalan
kami hanyalah umat manusia
yang pandai berbuat sia-sia
tapi hadirmu membawa sadar
bulan ramadhan, ampunan-Nya berpendar
Boyolali, Juli 2014
28.
Syarif hidayatullah
Ayat-Mu di kerlip Malam
-Nuzulu Qur’an
Ada malam denyutku terhenti di pemikiran
Tentang sejarah ribua abad silam, di saat angin hening
Meteor diam, pohon tentram, alam berdamai pada diri sendiri
Tak ada hujan, daun jatuh, seta kebisingan suara langit
Ayat-ayat Tuhan turun ke dada, merasuk ke seluruh sendi kehidupan
Tentang hukum, kenikmatan bahkan ancaman
Berkelana hingga detik ini
Orang-orang melantunkan kitab-Mu Tuhan
Dari Hizaz, Bayati hingga alunan nada yang tak ku mengerti
Dalam terkantuk ku dengar seruanmu
Di kerlip lilin di kelam malam
Ada rindu di suguhi malam
Kepada sang pemilik teguh
Di dalam mesjid megah
Hingga surau hampir roboh
Dari kota yang seolah tak mengenal malam
Sampai jangkrik dan katak bersahutan di ujung dusun
Ayat-Mu ada pada jantung denyut kehidupan
Nuzulul Qur’an
Dalam malam seribu bulan
29
Didi Kaha
Ramadhan ke-3
di titik ini
aku masih saja merasa sepi
: waktu bagai sebilah pisau tumpul dan berkarat
yang tak mampu juga mengiris dan menyingkirkan
nafsu dan angkara
yang masih kuat melekat
menggelayuti raga dan jiwa
puasaku masih juga hanya menemu
lapar dan dahaga
30.
Mahbub Junaedi
EMBUN DI PADANG MAHSYAR
pagi yang sama, seperti kemarin, matahari masih bangun dari timur
tapi arahku belum pasti, akan kemana memuara
memeluk laut? atau hilang tertelan bumi
sebagaimana alur yang kini terus berpindah
embun, masihkah asyik bergelayut pada daun yang selalu terdengar kumandang dzikir? Selagi belum gugur dan sebongkah nyawa melayang. Kilaumu di musim kemarau sangat kontras dengan kegersangan. Lamat-lamat hilang tertimpa sinar yang menyengat, serupa padang mahsyar menggetar setiap hati yang gentar. kecuali jika amal menjelma segumpal awan menaungi hari-hari yang sangat lama menunggu hisab. Embun, setetespun sangat berarti menyirap dahaga.
ah.. secara perasaan masih pagi,
hembusan angin kering, teringat kerling mimpi semalam
masih dalam setengah sadar dan tidak
digelandang menuju Sirathal Mustaqim
220813
31.
Iin Nuraini
Ramadhan
AYAT 1
Kalender sakral dalam angka :
Sajak kembali suci lewat kata, wajah, warna, juga sampah
Ucap dalam adat kembali bangkitkan ritual sesaat :
“jauhkan anak cucu adam dari sesat”
AYAT 2
Iqro ....
Kami buta aksara Gusti. Jika waktu adalah evolusi mengeja aksara...jangan kirim nabi-nabi di kotak TV
AYAT 3
Manusia-manusia bebal . Sedia karena hadiah. Manusia yang selalu kehilangan. Konyol dalam fiksi asyik. Kelak bakal kiamat. Hingga Tuhan datang dengan hadiah : Ramadhan dengan kemilau bintang-bintang kecil. Lihat mereka, kerlip-kerlip manusia bersujud, pasrah hati. Kelak diberikan padamu yang rindu. Yang tak tergesa-gesa meski bara tak lekas padam
[ Ramadhan_juli 2015 ]
32.
Ali Syamsudin Arsi
SUJUD LUBANG KEMBALI
geriap deru
bulu tangan diam embun
episode demi episode
bermekaran di lingkaran retina mata
sedih menjadi sunyi di sini
sedih menjadi ujung hari
derap demi derap lesap perlahan
senja
sudah terbuka bias warna jingga
halaman catatan
suara-suara dalam rekam perjalanan
bila banyak malam terabaikan
semakin malam semakin malam semakin malam semakin
kembali
/asa, banjarbaru, 12 mei 2015
33.
Hasan Bisri BFC
INGIN KUDEKAP 1000 BULAN
ingin kudekap 100 bulan
tapi selalu saja terlepas
oleh mata pandang gelandangan
yang menyisir tetumpukan sampah
sudah kucoba mengekang kuda nafsu
yang meringkik-aringkik di setiap sudut
jantung waktu
juga ludah kata-kata yang senantiasa mau merucut
dari mulut
dan busung dada yang selalu kuredam
dengan berat godam
maka pada malam yang pekat
aku berharap menjaring bintang-bintang
agar reruntuhan cahayanya meredam
bara hati berkarat
tapi selalu saja luput kutangkap
1000 bulan impian yang diselipkan
pada angka-angka ganjil
di sepuluh malam terakhir
Robbi, kepadaMU aku bisa bangga berkaca
tapi kepada sesama, aku tak berarti apa-apa
Jakarta, 23 Juli 2015
34.
Riswo Mulyadi
MENCARI RAMADLANKU
ramadlanku,
aku mencarimu, sungguh
di mana kau berada?
jika dalam lapar, hausku tak kutemukan
apakah engkau sembunyi di balik sajadah?
tadi malam, aku membolak-balik sajadah
kaki-kakiku melekat sepanjang taraweh
tak kurasakan detak nadimu
lalu di mana kau mukim?
di subuh tadi
kutelisik seluruh ruang sepi hingga ke sisi masjid
mencari denyutmu
belum juga terasa
mungkin, aku mati rasa
atau engkau bersemayam dalam puasaku?
(aku mulai ragu)
apakah aku berpuasa jika seharian menguliti aib saudaraku
apakah laparku ini puasa,
jika seharian aku tertidur memeluk waktu
apakah hausku ini puasa,
jika dari subuh hingga asar tenggorokanku basah oleh gosip-gosip
aku coba sisi lain,
akhir-akhir ini mulai nampak keramaian di jalan-jalan
di pasar dan pertokoan
lalu sesekali pula terdengar suara petasan
apa kau di sana bersama mereka?
aku masih terus mencari
sampai denyutmu terasa di dada nadiku
aku masih saja bertanya
sambil terus memimpikan sorga
atau Idul Fitri, paling tidak
Karanganjog, 27 Ramadlan 1436 H
35.
Eddie MNS Soemanto
ALANGKAH BERAT BERPISAH DENGANMU
lorong malam
hujan membangun riuh
di ujung ramadhan
ladang sunyi bahasa
berbaris jejak i'tikaf
penyair kehabisan air mata
kehilangan ruh doa
rentetan peristiwa, tumpukan masalah,
dan pecahan-pecahan beling
mungkin ibadah lain yang kuulang
hingga tulangku menempuruk
dalam sujud yang basah
padamu semata
kutuang pinta pilu jiwa
marwah ramadhan
bulan rahmat penuh ampunan
malam lailatul qadar
limpahan-limpahan pahala
o matahari melafazkan panas
zikir yang panjang
aku hampir sampai
mungkin kita
tak ada pengecualian
ke batas yang tak pernah tahu
dan ramadhan itu melambaikan tangan
mengucapkan salam
dalam isak lirihku
Padang, Juli 2015
36.
Aris Rahman Yusuf
BAJU BARU
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
karena baju- baju bersih
masih tersimpan rapi di lemari
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
karena lembar-lembar uang di saku
hanya cukup untuk beli sedikit kerupuk
untuk hidangan tamu nanti
ramadan terakhir
berikan aku hati yang baru
tunjukkan jalan rezeki
tunjukkan langkah menuju bidadari
untuk menuju-Mu
untuk mencapai-Mu
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
Mojokerto, 14072015
37.
ARIF KHILA
IZINKAN AKU BERPERANG
Tuhan …
Izinkan aku berangkat berperang
Dalam bulan suci yang engkau janjikan
Tanpa meriam
Senapan
Ataupun parang
Ramadhan telah datang
Hilal jelas menyapa
Penanda awal kita akan berangkat.
Tak ada bunuh membunuh
Hanya tiap-tiap waktu terus menahan
Pada nafsu yang terus membara
Lebih berbahaya dari setan yang berhenti menggoda.
Tuhan …
Diakhir perang
Izinkan aku sedikit berpesta
Melebur dalam takbir
Diawal syawal yang mulai terlihat.
Tersenyum bahagia
Kemenangan telah dikabarkan
Berbagi zakat sebagai pelengkap
Tuhan …
Izinkan aku tetap berperang
Pada bulan yang sama ditahun depan.
38.
SIAPAKAH MANUSIA SEMPURNA?
aku membaca dalam al quran
Allah selalu mengabarkan
kepada Muhammad rasul Allah
sebagai perantara umat dan Allah
Allah jadikan Muhammad lelaki pilihan
pemimpin para lelaki dan perempuan
manusia makhluk berkurang lebih
kalau tak kurang tentu berlebih
kalau bukan hanya kurang ilma
tentu berlebihlebih laku rianya
sungguh tidak mutlak sempurna
sombong salah satu yang menguranginya
dalam al quran ada larangan dan perintah
untuk dipatuhi manusia agar hidup damai
wahyu melewati MUhammad rasul Allah
dismpaikan kepada manusia agar jangan lalai
larangan dan perintah sebagai penyempurna
segala kekurangan pada manusia
bukan hanya untuk perempuan yang dihina
juga buat lelaki yang merasa manusia adiguna
istri yang perempuan bersurga di kaki lelaki
lelaki seperti apakah yang jadi surga istri
di kaki ibu yang perempuan jadi surga anak lelaki
ibu yang semacam apakah jadi surga anak lelaki
larangan dan perintah sebagai penyempurna
segala kekurangan pada manusia
dalam al quran ada larangan dan perintah
untuk dipatuhi manusia agar hidup sempurna
girci kalibata
28 Ramadhan 1436
39.
Kurnia Fajar
SAAT
Tiba juga saat dinanti
Tuntas penjalanan menuju fitri
Tapi jangan artikan ini suci
Tiba juga saat dinanti
Jabat tangan
Maaf memaafkan
Tapi jangan artikan kertas putih kembali
Tiba juga saat dinanti
Tapi jangan artikan kita lahir kembali
Jika tak mampu perbaiki
Pada laku setelah ini
Budhi Setyawan
Puasaku
puasaku ini adalah puasanya bumi dan langit
menunggu pesan nirmala bagi semesta
puasaku adalah puasanya jasad dan ruh
menahan dari amuk kasat dan tak kasat mata
adalah rindu tanah saat kemarau
pada hujan untuk mendaur kesuburan
adalah rindu tulang dan darah
pada sepoi kesunyian detak silam
: maka biarlah kesabaran menempuh jalannya
bersama ayat ayat yang dirapalkan musim
kepada pepohonan usia yang menggigil
mencatat daun jatuh hingga sujud penghabisan
: maka biarlah kebijakan menuntun pandang
sukma kepada pencetus rindu semula
yang kuasa menghadirkan jalinan ruang
di segala kisi angan dan penyebutan
Jakarta, 2015
20.
Bagus Setyoko Purwo
Surga Ramadhan
: tercipta untuk mereka yang dikehendaki-Nya
sabar menapaki takdir
kita tempuh keridhoan hidup dengan meneruskan ikhtiar
menyusuri lorong-lorong ramadan
terlihat di setapak perjalanan kita
di situlah surga ramadan
:sabar.ridho.tawakkal – mari kita memohon itu
2014
21.
Dian Rusdiana
Kerinduanku
berabad abad tak bersua
bilakah kudapatkan bouraq agar bisa setakat
memandang teduh wajahmu
bercakap dan kupelajari segala kearifan
kekasih, pohon rindu yang kau tanamkan
kian berkembang kesabaran
berdaun ketulusan
berbuah keridhaan
di kesyahduan ayat ayat kasih
kutumpahkan kerinduan
kumaknai pada tiap denyut nadi
di kedalaman sukma kuresapi syair syair kesejatianmu
2014
22
Bambang Widiatmoko
TERJEPIT DI SURAU
Sebuah surau terpencil di perkebunan karet
Menjepitku dalam kesendirian dan rasa sunyi
Aku mencarimu dalam rasa gelisah tak tentu arah
Dalam pengembaraan pencarian jati diri
Tapi rasa sunyi demikian menyakitkan hati
Seperti batang pohon karet yang ditoreh tubuhnya
Meski berwarna putih dialah puncak dari segala perih
Sebuah surau terpencil di atas bukit
Telah menahanku untuk berdiam diri
Menunggu Idul Fitri esok sisa embun pagi
Dengan segala keasingan dan bahasa tak kupahami
Bahkan suara burung pun terasa mengganggu
Sepanjang usia menemu lebaran dalam ruang dan waktu
Di tangan tuhan aku selalu mengamini – dialah sejatinya rindu.
2015
23
HERU MUGIARSO
METAMORFOSIS RAMADAN
Episode praramadan:
ulat bergeriap siap menelan
Apa yang tampak di depan
Nafsu aluamah tertumpah
semen dan besi pun siap dimamah
Episode ramadan:
Kepompong bergelantung
Bergeming dari kalkulasi rugi dan untung
khusuk bertapa dalam riuh dunia
disapa cahaya
Episode pascaramadan:
Indahnya ramarama
berparas jelita
kembali ke jati diri
pribadi fitri
Ramadan, 1436H
24.
Ayid Suyitno PS
DI PAGI YANG BASAH
hanya kebaikan terbayang di mata
tak ada kendala melaksanakannya
jika selama ini telah berjalan lancar
tentu kini harus lebih dipersegar
hati dan jiwa terus melangkah
menuju batas rindu kasih Allah
dalam ikhlas dan berserah
dibalut semangat pantang menyerah
di pagi yang basah
aku menghadapMu ya Allah
Ramadhan, 1436 H
25.
Aloeth Pathi
Kelingan: Saur Pertama
Menjelang Subuh
Rindu ini datang tiba-tiba
ketika suara qiro'ah mengalun dari kaset di sebuah masjid
mengingatkan ku pada Suro kecil di kampung
dan dampar tempat mengaji
Rindu ini datang tiba-tiba
Ketika jemariku menyentuh bibir gelas
lekukan piring, sendok
mengingatkan dapur ibu di masa kecilku dulu
dan meja bambu tempat saur bersama
hari ini aku makan sendirian
hanya nasi putih, sambal, tempe goreng
dan segelas air putih
Tuhan
Terima kasih atas nikmat karunia Mu
Serta rasa syukur bertemu Ramadhan
Sekarjalak, 18 Juni 2015
26.
Osratus
TETES-TETES PROTES, SEPUTIH TASBIH
“Lihatlah,
dengan mata hati yang bersih dari fitnah
Dalam butir-butir putih tasbih,
ada bening telaga takwa yang teraih
Perahu Ramadan,
antarkan kita ke surau suci di tengah telaga dengan
segenap iman. Tanpa pamrih,
rembulan malam turut antarkan kita terawih
Sandal dan sepatu baru,
bawa saja kalau kalian mau.
Dijamin tidak hilang, sampai kita pulang
Bila kita punya rencana
pindahkan surau suci itu ke tengah kampung kita,
mudah saja
Asalkan, sudah siapkah kita menjaganya
dengan melaksanakan
ibadah puasa dan
terawih sebulan penuh di Bulan Ramadan?
Selain itu, solat lima waktu meski bagus
sampai batas usia kita mengelus
Kalau tidak sakit, tidak pula keluar kampung,
selalulah solat di surau suci itu dengan mengusung
rasa beruntung sebesar gunung
Jujur yang tumbuh subur dalam diri, jangan lalu lebur
Rasa peduli, tidak boleh mati
Kerukunan, jagalah dengan baik turun temurun
Jangan mau dirangkul tahayul
Itulah syarat-syarat yang perlu diingat
Rasanya aneh ya, ikhwan dan akhwat!
Biasanya menjaga surau dilakukan bila
jam dinding, kipas angin, pengeras suara
terancam keamanannya
Bagiku, tidak aneh
Yang aneh, (sepertinya) yang merasa aneh
Di Bulan Suci, setan dibelenggu
Keamanan, terjaga sepanjang waktu
Di luar Bulan Suci, tergantung pada kita sendiri.
Makanya, surau suci itu mesti
dijaga dengan sepenuh kejujuran yang ada dalam diri,
agar jam dinding, kipas angin, pengeras suara,
tidak pergi ke mana-mana.”
Sorong, 13 Juli 2015
27.
Andrian Eksa
RAMADHAN PENUH AMPUNAN
marhaban ya ramadhan
kusambut kau dengan kesungguhan
hati bersih nan berseri
sebab kau datang menghampiri
kutahu kau adalah cinta
yang tersebar di alam semesta
meski hanya satu bulan
hadirmu itu penuh imbalan
kami hanyalah umat manusia
yang pandai berbuat sia-sia
tapi hadirmu membawa sadar
bulan ramadhan, ampunan-Nya berpendar
Boyolali, Juli 2014
28.
Syarif hidayatullah
Ayat-Mu di kerlip Malam
-Nuzulu Qur’an
Ada malam denyutku terhenti di pemikiran
Tentang sejarah ribua abad silam, di saat angin hening
Meteor diam, pohon tentram, alam berdamai pada diri sendiri
Tak ada hujan, daun jatuh, seta kebisingan suara langit
Ayat-ayat Tuhan turun ke dada, merasuk ke seluruh sendi kehidupan
Tentang hukum, kenikmatan bahkan ancaman
Berkelana hingga detik ini
Orang-orang melantunkan kitab-Mu Tuhan
Dari Hizaz, Bayati hingga alunan nada yang tak ku mengerti
Dalam terkantuk ku dengar seruanmu
Di kerlip lilin di kelam malam
Ada rindu di suguhi malam
Kepada sang pemilik teguh
Di dalam mesjid megah
Hingga surau hampir roboh
Dari kota yang seolah tak mengenal malam
Sampai jangkrik dan katak bersahutan di ujung dusun
Ayat-Mu ada pada jantung denyut kehidupan
Nuzulul Qur’an
Dalam malam seribu bulan
29
Didi Kaha
Ramadhan ke-3
di titik ini
aku masih saja merasa sepi
: waktu bagai sebilah pisau tumpul dan berkarat
yang tak mampu juga mengiris dan menyingkirkan
nafsu dan angkara
yang masih kuat melekat
menggelayuti raga dan jiwa
puasaku masih juga hanya menemu
lapar dan dahaga
30.
Mahbub Junaedi
EMBUN DI PADANG MAHSYAR
pagi yang sama, seperti kemarin, matahari masih bangun dari timur
tapi arahku belum pasti, akan kemana memuara
memeluk laut? atau hilang tertelan bumi
sebagaimana alur yang kini terus berpindah
embun, masihkah asyik bergelayut pada daun yang selalu terdengar kumandang dzikir? Selagi belum gugur dan sebongkah nyawa melayang. Kilaumu di musim kemarau sangat kontras dengan kegersangan. Lamat-lamat hilang tertimpa sinar yang menyengat, serupa padang mahsyar menggetar setiap hati yang gentar. kecuali jika amal menjelma segumpal awan menaungi hari-hari yang sangat lama menunggu hisab. Embun, setetespun sangat berarti menyirap dahaga.
ah.. secara perasaan masih pagi,
hembusan angin kering, teringat kerling mimpi semalam
masih dalam setengah sadar dan tidak
digelandang menuju Sirathal Mustaqim
220813
31.
Iin Nuraini
Ramadhan
AYAT 1
Kalender sakral dalam angka :
Sajak kembali suci lewat kata, wajah, warna, juga sampah
Ucap dalam adat kembali bangkitkan ritual sesaat :
“jauhkan anak cucu adam dari sesat”
AYAT 2
Iqro ....
Kami buta aksara Gusti. Jika waktu adalah evolusi mengeja aksara...jangan kirim nabi-nabi di kotak TV
AYAT 3
Manusia-manusia bebal . Sedia karena hadiah. Manusia yang selalu kehilangan. Konyol dalam fiksi asyik. Kelak bakal kiamat. Hingga Tuhan datang dengan hadiah : Ramadhan dengan kemilau bintang-bintang kecil. Lihat mereka, kerlip-kerlip manusia bersujud, pasrah hati. Kelak diberikan padamu yang rindu. Yang tak tergesa-gesa meski bara tak lekas padam
[ Ramadhan_juli 2015 ]
32.
Ali Syamsudin Arsi
SUJUD LUBANG KEMBALI
geriap deru
bulu tangan diam embun
episode demi episode
bermekaran di lingkaran retina mata
sedih menjadi sunyi di sini
sedih menjadi ujung hari
derap demi derap lesap perlahan
senja
sudah terbuka bias warna jingga
halaman catatan
suara-suara dalam rekam perjalanan
bila banyak malam terabaikan
semakin malam semakin malam semakin malam semakin
kembali
/asa, banjarbaru, 12 mei 2015
33.
Hasan Bisri BFC
INGIN KUDEKAP 1000 BULAN
ingin kudekap 100 bulan
tapi selalu saja terlepas
oleh mata pandang gelandangan
yang menyisir tetumpukan sampah
sudah kucoba mengekang kuda nafsu
yang meringkik-aringkik di setiap sudut
jantung waktu
juga ludah kata-kata yang senantiasa mau merucut
dari mulut
dan busung dada yang selalu kuredam
dengan berat godam
maka pada malam yang pekat
aku berharap menjaring bintang-bintang
agar reruntuhan cahayanya meredam
bara hati berkarat
tapi selalu saja luput kutangkap
1000 bulan impian yang diselipkan
pada angka-angka ganjil
di sepuluh malam terakhir
Robbi, kepadaMU aku bisa bangga berkaca
tapi kepada sesama, aku tak berarti apa-apa
Jakarta, 23 Juli 2015
34.
Riswo Mulyadi
MENCARI RAMADLANKU
ramadlanku,
aku mencarimu, sungguh
di mana kau berada?
jika dalam lapar, hausku tak kutemukan
apakah engkau sembunyi di balik sajadah?
tadi malam, aku membolak-balik sajadah
kaki-kakiku melekat sepanjang taraweh
tak kurasakan detak nadimu
lalu di mana kau mukim?
di subuh tadi
kutelisik seluruh ruang sepi hingga ke sisi masjid
mencari denyutmu
belum juga terasa
mungkin, aku mati rasa
atau engkau bersemayam dalam puasaku?
(aku mulai ragu)
apakah aku berpuasa jika seharian menguliti aib saudaraku
apakah laparku ini puasa,
jika seharian aku tertidur memeluk waktu
apakah hausku ini puasa,
jika dari subuh hingga asar tenggorokanku basah oleh gosip-gosip
aku coba sisi lain,
akhir-akhir ini mulai nampak keramaian di jalan-jalan
di pasar dan pertokoan
lalu sesekali pula terdengar suara petasan
apa kau di sana bersama mereka?
aku masih terus mencari
sampai denyutmu terasa di dada nadiku
aku masih saja bertanya
sambil terus memimpikan sorga
atau Idul Fitri, paling tidak
Karanganjog, 27 Ramadlan 1436 H
35.
Eddie MNS Soemanto
ALANGKAH BERAT BERPISAH DENGANMU
lorong malam
hujan membangun riuh
di ujung ramadhan
ladang sunyi bahasa
berbaris jejak i'tikaf
penyair kehabisan air mata
kehilangan ruh doa
rentetan peristiwa, tumpukan masalah,
dan pecahan-pecahan beling
mungkin ibadah lain yang kuulang
hingga tulangku menempuruk
dalam sujud yang basah
padamu semata
kutuang pinta pilu jiwa
marwah ramadhan
bulan rahmat penuh ampunan
malam lailatul qadar
limpahan-limpahan pahala
o matahari melafazkan panas
zikir yang panjang
aku hampir sampai
mungkin kita
tak ada pengecualian
ke batas yang tak pernah tahu
dan ramadhan itu melambaikan tangan
mengucapkan salam
dalam isak lirihku
Padang, Juli 2015
36.
Aris Rahman Yusuf
BAJU BARU
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
karena baju- baju bersih
masih tersimpan rapi di lemari
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
karena lembar-lembar uang di saku
hanya cukup untuk beli sedikit kerupuk
untuk hidangan tamu nanti
ramadan terakhir
berikan aku hati yang baru
tunjukkan jalan rezeki
tunjukkan langkah menuju bidadari
untuk menuju-Mu
untuk mencapai-Mu
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
Mojokerto, 14072015
37.
ARIF KHILA
IZINKAN AKU BERPERANG
Tuhan …
Izinkan aku berangkat berperang
Dalam bulan suci yang engkau janjikan
Tanpa meriam
Senapan
Ataupun parang
Ramadhan telah datang
Hilal jelas menyapa
Penanda awal kita akan berangkat.
Tak ada bunuh membunuh
Hanya tiap-tiap waktu terus menahan
Pada nafsu yang terus membara
Lebih berbahaya dari setan yang berhenti menggoda.
Tuhan …
Diakhir perang
Izinkan aku sedikit berpesta
Melebur dalam takbir
Diawal syawal yang mulai terlihat.
Tersenyum bahagia
Kemenangan telah dikabarkan
Berbagi zakat sebagai pelengkap
Tuhan …
Izinkan aku tetap berperang
Pada bulan yang sama ditahun depan.
38.
SIAPAKAH MANUSIA SEMPURNA?
aku membaca dalam al quran
Allah selalu mengabarkan
kepada Muhammad rasul Allah
sebagai perantara umat dan Allah
Allah jadikan Muhammad lelaki pilihan
pemimpin para lelaki dan perempuan
manusia makhluk berkurang lebih
kalau tak kurang tentu berlebih
kalau bukan hanya kurang ilma
tentu berlebihlebih laku rianya
sungguh tidak mutlak sempurna
sombong salah satu yang menguranginya
dalam al quran ada larangan dan perintah
untuk dipatuhi manusia agar hidup damai
wahyu melewati MUhammad rasul Allah
dismpaikan kepada manusia agar jangan lalai
larangan dan perintah sebagai penyempurna
segala kekurangan pada manusia
bukan hanya untuk perempuan yang dihina
juga buat lelaki yang merasa manusia adiguna
istri yang perempuan bersurga di kaki lelaki
lelaki seperti apakah yang jadi surga istri
di kaki ibu yang perempuan jadi surga anak lelaki
ibu yang semacam apakah jadi surga anak lelaki
larangan dan perintah sebagai penyempurna
segala kekurangan pada manusia
dalam al quran ada larangan dan perintah
untuk dipatuhi manusia agar hidup sempurna
girci kalibata
28 Ramadhan 1436
39.
Kurnia Fajar
SAAT
Tiba juga saat dinanti
Tuntas penjalanan menuju fitri
Tapi jangan artikan ini suci
Tiba juga saat dinanti
Jabat tangan
Maaf memaafkan
Tapi jangan artikan kertas putih kembali
Tiba juga saat dinanti
Tapi jangan artikan kita lahir kembali
Jika tak mampu perbaiki
Pada laku setelah ini
Daftar sastrawan Indonesia Terkini
Daftar Penyair Nusantara
1. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
2. Acep Syahril (Indramayu)
3. Agus R Sardjono (Jakarta)
4. Agus R. Subagyo (Nganjuk)
5. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
4. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
6. Agus Warsono(Rg BagusWarsono)(Indramayu)
7. Agustav Triono (Purwokerto)
8. Agustinus (Purbalingga)
9. Ahmad Daladi (Magelang)
10. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)
11. Akaha Taufan Aminudin (Batu, Malang)
12. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
13. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)
14. Aming Aminudin (Surabaya)
15. Andreas Kristoko (Yogja)
16. Andrias Edison (Blitar)
17. Andrik Purwasito (Solo)
18. Anggoro Suprapto (Semarang)
19. Ardi Susanti (Tulungagung)
20. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
21. Asyari Muhammad (Jepara)
23. Ayu Cipta (Tangerang)
24. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)
25. A’yat Khalili (Sumenep)
26. Aan Setiawan (Banjarbaru)
27. Abah Yoyok (Tangerang)
28. Abdul Aziz H. M. El Basyroh (Indramayu)
29. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
30. Ade Ubaidil (Cilegon)
31. Adi Rosadi (Cianjur)
32. Ahlul Hukmi (Dumai)
33. Ahmad Ardian (Pangkep)
34. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
35. Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)
36. Alex R. Nainggolan (Tangerang)
37. Allief Zam Billah (Rembang)
38. Aloeth Pathi (Pati)
39. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)
40. Anna Mariyana (Banjarmasin)
41. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)
42. Arba’ Karomaini (Pati)
43. Ardian Je (Serang)
44. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)
45. Asmoro Al Fahrabi (Pasuruan)
46. Asril Koto (Padang)
47. Autar Abdillah (Sidoarjo)
48. Bagus Putu Parto (Blitar)
49. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
50. Bambang Supranoto (Cepu)
51. Bambang Widiatmoko (Bekasi)
52. Beni Setia (Caruban)
53. Bontot Sukandar (Tegal)
54. Brigita Neny Anggraeni (Semarang)
55. Budhi Setyawan (Bekasi)
56. Badaruddin Amir (Barru)
57. Bambang Karno (Wonogiri)
58. Barlean Bagus S. A. (Jember)
59. Chafidh Nugroho (Kudus)
60. Dedet Setiadi (Magelang)
61. Denni Meilizon (Padang)
62. Dharmadi (Purwokerto)
63. Didid Endro S (Jepara)
64. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
65. Dona Anovita (Surabaya)
66. Dwi Ery Santosa (Tegal)
68. Dyah Setyawati (Tegal)
69. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)
70. Darman D. Hoeri (Malang)
71. Daryat Arya (Cilacap)
72. Denny Mizhar (Malang)
73. Diah Rofika (Berlin)
74. Diana Roosetindaro (Solo)
75. Dimas Indiana Senja (Brebes)
76.Dini S. Setyowati (Amsterdam)
77. Dinullah Rayes (Sumbawa Besar)
78. Dulrohim (Purworejo)
79. Dwi Haryanta (Jakarta)
80. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
81. Dyah Narang Huth (Hamburg)
82. Eka Pradhaning (Magelang)
83. Eko Widianto (Jepara)
84. Ekohm Abiyasa (Solo)
85. Endang Setiyaningsih (Bogor)
86. Endang Supriyadi (Depok)
87. Eddie MNS-Soemanto (Padang)
88. Edy Saputra (Blitar)
89. Efendi Saleh (Blitar)
90. Emha Jayabrata (Pekalongan)
91. Euis Herni Ismail (Subang)
92. Fahrurraji Asmuni (Amuntai)
78. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)
93. Fakrunnas M. A. Jabbar (Pekanbaru)
94. Fatah Rastafara (Pekalongan)
95. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)
96. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)
97. Ferdi Afrar (Sidoarjo)
98. Fikar W. Eda (Aceh)
99. Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)
100. Gunawan Tri Admojo (Solo)
101. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu)
102. Gol A Gong (Serang)
103. Handry Tm (Semarang)
104. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
105. Heru Mugiarso (Semarang)
106. Hilda Rumambi (Palu)
107. Habibullah Hamim (Pasuruan)
108. Hadikawa (Banjarbaru)
109. Haidar Hafeez (Pasuruan)
110. Haryono Soekiran (Purbalingga)
111. Hasan B. Saidi (Batam)
112. Hasan Bisri B. F. C. (Jakarta)
113. Hasta Indriyana (Bandung)
114. Heny Gunanto (Pemalang)
115. Herman Syahara (Jakarta)
116. Hidayat Raharja (Sumenep)
117. Husnu Abadi (Pekanbaru)
118. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)
119. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)
120. Irma Yuliana (Kudusan, Jawa Tengah)
121. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)
122. Jamal D Rahman (Jakarta)
123. Jhon F.S. Pane (Kotabaru)
124. Jumari HS (Kudus)
125. Jefri Widodo (Ngawi)
126. Johan Bhimo (Sragen)
127. Joko Wahono (Sragen)
128. Jose Rizal Manua (Jakarta)
129. Joshua Igho (Tegal)
130. Juperta Panji Utama (Lampung)
131. Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat)
132. Kun Cahyono Ps (Wonosobo)
133. Kuspriyanto Namma (Ngawi)
134. Kalsum Belgis (Martapura)
135. Ken Hanggara (Pasuruan)
115. Kusdaryoko (Banjarnegara)
136. Lailatul Kiptiyah (Blitar)
137. Lennon Machali (Gresik)
138. Lukni Maulana (Semarang)
139. Lara Prasetya Rina (Denpasar)
140. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)
141. Lukman Mahbubi (Sumenep)
142. M. Enthieh Mudakir (Tegal)
143. M. Faizi (Sumenep, Madura)
144. M. Syarifuddin (Jember)
145. M. L. Budi Agung (Temanggung)
146. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)
147. M. Andi Virman (Purwokerto)
148. Maria Roeslie (Samarinda)
149. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
150. Melur Seruni (Singapura)
151. Memed Gunawan (Jakarta)
152. Micha Adiatma (Solo)
153. Mubaqi Abdullah (Semarang)
154. Muhammad Rain (Langsa)
155. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
156. Muhammad Zaini Ratuloli (Bekasi)
157. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)
158. Muhtar S. Hidayat (Blora)
159. Mustofa W. Hasyim (Yogjakarta)
160. Mubaqi Abdullah (Semarang)
161. Najibul Mahbub (Pekalongan)
162. Nurngudiono (Tegal)
163. Nabilla Nailur Rohmah (Malang)
164. Nike Aditya Putri (Cilacap)
166. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
167. Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)
168. Oscar Amran (Bogor)
169. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)
170. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
171. Puji Pistols (Pati)
172. Puput Amiranti (Blitar)
173. Puspita Ann (Solo)
174. R. B. Edi Pramono (Yogyakarta)
175. R. Giryadi (Sidoarjo)
176. R. Valentina Sagala (Bandung)
177. Radar Panca Dahana (Jakarta)
178. Rezqie Muhammad Al Fajar (Banjarmasin)
179. Ribut Achwandi (Pekalongan)
180. Ribut Basuki (Surabaya)
181. Rini Ganefa (Semarang)
182. Rivai Adi (Jakarta)
183. Riyanto (Purwokerto)
184. Rohseno Aji Affandi (Solo)
1 85. Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)
186.Rosiana Putri (Banjarbaru)
187. Rudi Yesus (Yogjakarta)
188. Sabahuddin Senin (Kinabalu)
189. Saiful Bahri (Aceh)
190. Sosiawan Leak (Solo)
191. Sudarmono (Bekasi)
192. Sulis Bambang (Semarang)
193. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
194. Surya Hardi (Pekanbaru)
195. Sus S Hardjono (Sragen)
196. Suyitna Ethex (Mojokerto)
197. S. A. Susilowati (Semarang)
198. Saiful Hadjar (Surabaya)
199. Samsuni Sarman (Banjarmasin)
200. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)
201. Serunie (Solo)
202. Soekoso D. M. (Purworejo)
203. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar)
204. Sri Wahyuni (Gresik)
205. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
206. Sunaryo Broto (Kaltim)
207. Suroto S. Toto (Purworejo)
208. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)
209. Syafrizal Sahrun (Medan)
210. Syam Chandra (Yogyakarta)
211. Syarifuddin Arifin (Padang)
212. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
213. Tan Tjin Siong (Surabaya)
214. Tarmizi Rumahitam (Batam)
215. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)
216. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
217. Titik Kartitiani (Tangerang)
218. Thomas Budi Santoso (Kudus)
219. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
220. Toto St. Radik (Serang)
221. Tri Lara Prasetya Rina (Bali)
222. Turiyo Ragilputra (Kebumen)
223. Udik Agus Dw (Jepara)
224. Udo Z. Karzi (Lampung)
225. W. Haryanto (Blitar)
226. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
227. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)
228. Wardjito Soeharso (Semarang)
229. Wanto Tirta (Ajibarang)
230. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)
231. Wawan Kurn (Makassar)
232. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)
233. Wyaz Ibn Sinentang (Ketapang)
234. Yanusa Nugroho (Tangerang)
235. Yatim Ahmad (Kinabalu)
236. Yogira Yogaswara (Bandung)
237. Yudhie Yarco (Jepara)
238. Zainul Walid (Situbondo)
239. Zubaidah Djohar (Aceh)
1. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
2. Acep Syahril (Indramayu)
3. Agus R Sardjono (Jakarta)
4. Agus R. Subagyo (Nganjuk)
5. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
4. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
6. Agus Warsono(Rg BagusWarsono)(Indramayu)
7. Agustav Triono (Purwokerto)
8. Agustinus (Purbalingga)
9. Ahmad Daladi (Magelang)
10. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)
11. Akaha Taufan Aminudin (Batu, Malang)
12. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
13. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)
14. Aming Aminudin (Surabaya)
15. Andreas Kristoko (Yogja)
16. Andrias Edison (Blitar)
17. Andrik Purwasito (Solo)
18. Anggoro Suprapto (Semarang)
19. Ardi Susanti (Tulungagung)
20. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
21. Asyari Muhammad (Jepara)
23. Ayu Cipta (Tangerang)
24. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)
25. A’yat Khalili (Sumenep)
26. Aan Setiawan (Banjarbaru)
27. Abah Yoyok (Tangerang)
28. Abdul Aziz H. M. El Basyroh (Indramayu)
29. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
30. Ade Ubaidil (Cilegon)
31. Adi Rosadi (Cianjur)
32. Ahlul Hukmi (Dumai)
33. Ahmad Ardian (Pangkep)
34. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
35. Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)
36. Alex R. Nainggolan (Tangerang)
37. Allief Zam Billah (Rembang)
38. Aloeth Pathi (Pati)
39. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)
40. Anna Mariyana (Banjarmasin)
41. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)
42. Arba’ Karomaini (Pati)
43. Ardian Je (Serang)
44. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)
45. Asmoro Al Fahrabi (Pasuruan)
46. Asril Koto (Padang)
47. Autar Abdillah (Sidoarjo)
48. Bagus Putu Parto (Blitar)
49. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
50. Bambang Supranoto (Cepu)
51. Bambang Widiatmoko (Bekasi)
52. Beni Setia (Caruban)
53. Bontot Sukandar (Tegal)
54. Brigita Neny Anggraeni (Semarang)
55. Budhi Setyawan (Bekasi)
56. Badaruddin Amir (Barru)
57. Bambang Karno (Wonogiri)
58. Barlean Bagus S. A. (Jember)
59. Chafidh Nugroho (Kudus)
60. Dedet Setiadi (Magelang)
61. Denni Meilizon (Padang)
62. Dharmadi (Purwokerto)
63. Didid Endro S (Jepara)
64. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
65. Dona Anovita (Surabaya)
66. Dwi Ery Santosa (Tegal)
68. Dyah Setyawati (Tegal)
69. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)
70. Darman D. Hoeri (Malang)
71. Daryat Arya (Cilacap)
72. Denny Mizhar (Malang)
73. Diah Rofika (Berlin)
74. Diana Roosetindaro (Solo)
75. Dimas Indiana Senja (Brebes)
76.Dini S. Setyowati (Amsterdam)
77. Dinullah Rayes (Sumbawa Besar)
78. Dulrohim (Purworejo)
79. Dwi Haryanta (Jakarta)
80. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
81. Dyah Narang Huth (Hamburg)
82. Eka Pradhaning (Magelang)
83. Eko Widianto (Jepara)
84. Ekohm Abiyasa (Solo)
85. Endang Setiyaningsih (Bogor)
86. Endang Supriyadi (Depok)
87. Eddie MNS-Soemanto (Padang)
88. Edy Saputra (Blitar)
89. Efendi Saleh (Blitar)
90. Emha Jayabrata (Pekalongan)
91. Euis Herni Ismail (Subang)
92. Fahrurraji Asmuni (Amuntai)
78. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)
93. Fakrunnas M. A. Jabbar (Pekanbaru)
94. Fatah Rastafara (Pekalongan)
95. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)
96. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)
97. Ferdi Afrar (Sidoarjo)
98. Fikar W. Eda (Aceh)
99. Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)
100. Gunawan Tri Admojo (Solo)
101. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu)
102. Gol A Gong (Serang)
103. Handry Tm (Semarang)
104. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
105. Heru Mugiarso (Semarang)
106. Hilda Rumambi (Palu)
107. Habibullah Hamim (Pasuruan)
108. Hadikawa (Banjarbaru)
109. Haidar Hafeez (Pasuruan)
110. Haryono Soekiran (Purbalingga)
111. Hasan B. Saidi (Batam)
112. Hasan Bisri B. F. C. (Jakarta)
113. Hasta Indriyana (Bandung)
114. Heny Gunanto (Pemalang)
115. Herman Syahara (Jakarta)
116. Hidayat Raharja (Sumenep)
117. Husnu Abadi (Pekanbaru)
118. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)
119. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)
120. Irma Yuliana (Kudusan, Jawa Tengah)
121. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)
122. Jamal D Rahman (Jakarta)
123. Jhon F.S. Pane (Kotabaru)
124. Jumari HS (Kudus)
125. Jefri Widodo (Ngawi)
126. Johan Bhimo (Sragen)
127. Joko Wahono (Sragen)
128. Jose Rizal Manua (Jakarta)
129. Joshua Igho (Tegal)
130. Juperta Panji Utama (Lampung)
131. Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat)
132. Kun Cahyono Ps (Wonosobo)
133. Kuspriyanto Namma (Ngawi)
134. Kalsum Belgis (Martapura)
135. Ken Hanggara (Pasuruan)
115. Kusdaryoko (Banjarnegara)
136. Lailatul Kiptiyah (Blitar)
137. Lennon Machali (Gresik)
138. Lukni Maulana (Semarang)
139. Lara Prasetya Rina (Denpasar)
140. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)
141. Lukman Mahbubi (Sumenep)
142. M. Enthieh Mudakir (Tegal)
143. M. Faizi (Sumenep, Madura)
144. M. Syarifuddin (Jember)
145. M. L. Budi Agung (Temanggung)
146. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)
147. M. Andi Virman (Purwokerto)
148. Maria Roeslie (Samarinda)
149. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
150. Melur Seruni (Singapura)
151. Memed Gunawan (Jakarta)
152. Micha Adiatma (Solo)
153. Mubaqi Abdullah (Semarang)
154. Muhammad Rain (Langsa)
155. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
156. Muhammad Zaini Ratuloli (Bekasi)
157. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)
158. Muhtar S. Hidayat (Blora)
159. Mustofa W. Hasyim (Yogjakarta)
160. Mubaqi Abdullah (Semarang)
161. Najibul Mahbub (Pekalongan)
162. Nurngudiono (Tegal)
163. Nabilla Nailur Rohmah (Malang)
164. Nike Aditya Putri (Cilacap)
166. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
167. Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)
168. Oscar Amran (Bogor)
169. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)
170. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
171. Puji Pistols (Pati)
172. Puput Amiranti (Blitar)
173. Puspita Ann (Solo)
174. R. B. Edi Pramono (Yogyakarta)
175. R. Giryadi (Sidoarjo)
176. R. Valentina Sagala (Bandung)
177. Radar Panca Dahana (Jakarta)
178. Rezqie Muhammad Al Fajar (Banjarmasin)
179. Ribut Achwandi (Pekalongan)
180. Ribut Basuki (Surabaya)
181. Rini Ganefa (Semarang)
182. Rivai Adi (Jakarta)
183. Riyanto (Purwokerto)
184. Rohseno Aji Affandi (Solo)
1 85. Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)
186.Rosiana Putri (Banjarbaru)
187. Rudi Yesus (Yogjakarta)
188. Sabahuddin Senin (Kinabalu)
189. Saiful Bahri (Aceh)
190. Sosiawan Leak (Solo)
191. Sudarmono (Bekasi)
192. Sulis Bambang (Semarang)
193. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
194. Surya Hardi (Pekanbaru)
195. Sus S Hardjono (Sragen)
196. Suyitna Ethex (Mojokerto)
197. S. A. Susilowati (Semarang)
198. Saiful Hadjar (Surabaya)
199. Samsuni Sarman (Banjarmasin)
200. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)
201. Serunie (Solo)
202. Soekoso D. M. (Purworejo)
203. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar)
204. Sri Wahyuni (Gresik)
205. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
206. Sunaryo Broto (Kaltim)
207. Suroto S. Toto (Purworejo)
208. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)
209. Syafrizal Sahrun (Medan)
210. Syam Chandra (Yogyakarta)
211. Syarifuddin Arifin (Padang)
212. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
213. Tan Tjin Siong (Surabaya)
214. Tarmizi Rumahitam (Batam)
215. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)
216. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
217. Titik Kartitiani (Tangerang)
218. Thomas Budi Santoso (Kudus)
219. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
220. Toto St. Radik (Serang)
221. Tri Lara Prasetya Rina (Bali)
222. Turiyo Ragilputra (Kebumen)
223. Udik Agus Dw (Jepara)
224. Udo Z. Karzi (Lampung)
225. W. Haryanto (Blitar)
226. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
227. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)
228. Wardjito Soeharso (Semarang)
229. Wanto Tirta (Ajibarang)
230. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)
231. Wawan Kurn (Makassar)
232. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)
233. Wyaz Ibn Sinentang (Ketapang)
234. Yanusa Nugroho (Tangerang)
235. Yatim Ahmad (Kinabalu)
236. Yogira Yogaswara (Bandung)
237. Yudhie Yarco (Jepara)
238. Zainul Walid (Situbondo)
239. Zubaidah Djohar (Aceh)
Pendukung Penulis
Daftar Penyair Pendukung Antologi
No Puisi , Penyair :
19. Budhi Setyawan, penyair kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat. Bergiat di Komunitas Sastra Reboan serta sebagai penggagas dan Ketua Forum Sastra Bekasi.
20.Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, kab. Bekasi, menulis fiksi dan non fiksi, bergabung di Forum Sastra Bekasi, menulis di bulletin Jejak Forum Sastra Bekasi, mengajar di SMK Ananda, Bekasi Timur dan STIE Indonesia, Jakarta
21.Dian Rusdiana, lahir di Jakarta 14 September 1978. Perempuan lulusan akuntansi Universitas Gunadarma yang hobi mendengarkan musik dan membaca. Puisi-puisinya termuat di Buletin JEJAK, Radar Bekasi, Indopos, Cakrawala Makasar, Antologi Kepada Bekasi (2013), Gemuruh Ingatan (2014), Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (2014), Empati untuk Gaza (2014), Lumbung Puisi (2014), dll. Berkegiatan di komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.
22. Bambang Widiatmoko, pengarang kelahiran Yogyakarta ini telah memiliki kumpulan puisi tunggal Pertempuran (1980), Anak Panah (1996), Agama Jam (2002), Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), dan Jalan Tak Berumah (2014). Cerpennya terhimpun dalam antologi Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan (DKS, 2002), dan Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002). Sajak-sajaknya terhimpun dalam antologi bersama penyair lain Puisi Indonesia 1987 (DKJ, 1987), Tonggak IV (1987), Antologi Puisi Indonesia (1997), Antologi berbahasa Mandarin Penyair Kontemporer Indonesia (2008), Tanah Pilih (1998), Sajak Rindu Bagi Rasul (2010), Equator (edisi tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Jerman, 2011), Akulah Musi (2011), Tuah Tara No Ale (2011), Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Penyair Menolak Korupsi (2013), Secangkir Kopi (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta (2014), dan di lebih 50 kumpulan puisi yang lain. Karyanya dibahas dalam buku kritik sastra Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik (Korrie Layun Rampan, 1980), Bahasa Puisi Penyair Bambang Widiatmoko (Fakultas Sastra UGM, 1987), Berburu Kata Mencari Tuhan (Gama Media, 2008), Perjumpaan dengan Banten (Kumpulan Esai Wan Anwar, Kubah Budaya, 2011). Bianglala Perempuan dalam Sastra (Sugihastuti, Lembah Manah, 2012). Negeri Api Berlangit Puisi (KSI, 2013). Ikut menulis esai di buku In Memoriam Titie Sahid, Jejak Kepergian (Aksara, 2012) dan Jaket Kuning Sukirnanto (2014), serta di buku makalah seminar internasional Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), tahun 2010, 2012, dan 2015. Kumpulan esainya Kata Ruang (Leksika, 2015). Dia diundang mengikuti 33rd World Congress Of Poets di Ipoh Malaysia, 2013. Kini tercatat sebagai Anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), staf pengajar ilmu komunikasi pada beberapa universitas di Jakarta, dan Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat.
23.Heru Mugiarso. Lahir di Grobogan, lima puluh empat tahun lalu. Aktif melakukan berbagai aktivitas sastra. Antologi puisinya yang telah terbit Tilas Waktu ( 2011) . Inisiator gerakan Puisi Menolak Korupsi yang diikuti oleh ratusan penyair Indonesia.
24. Ayid Suyitno PS adalah Lulusan SMA Negeri 31 Jakarta tahun 1979 dan IKIP Jakarta tahun 1983. "Menunggu Kasih" adalah puisi pertamanya yang dimuat media massa (majalah GADIS) pada 1977. Bergabung di Teater Jakarta Timur pimpinan Dorman Borisman dan Syarifuddin A.Ch pada 1978-1983. Diundang Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dalam forum "Puisi Indonesia 1987" dan "Dialog Penyair Jakarta 1989". Dewan Pendiri Kelompok Diskusi Sastra Kita, Jakarta, sejak 1984. Dewan Pendiri Komunitas Sastra Indonesia sejak 1996. Wartawan olahraga sejak 1983. Lebih 100 media dari koran sampai jurnalisme warta memuat tulisannya. 100 lebih lainnya menjadi Donor Darah di Palang Merah Indonesia cabang DKI Jakarta di Kramat Raya, Jakarta Pusat. Tinggal di Pondok Kebalen Kab. Bekasi, Jawa Barat.
25. Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya dimuat Mata Media antologi bersama, Lumbung Puisi Sastrawan 2014, kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati.
26.Osratus, adalah nama pena, dari Sutarso nama sebenarnya. Lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 8 Maret 1965. Pindah ke Sorong (Papua Barat), Tahun 1981. Pendidikan S1, Jurusan Administrasi Negara. Menulis puisi sejak tahun 1981. Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Muhammadiyah Sorong (2006 – 2010). Buku Puisi : Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (antologi bersama, 2015), Puisi Menolak Korupsi Jilid IV (antologi bersama, 2015). Tinggal di Sorong Papua.
27.Andrian Eksa lahir di Boyolali, 15 Desember 1995. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY. Beberapa karyanya, berupa puisi, tergabung dalam beberapa buku antologi bersama. Seperti, Sang Peneroka (Editor: Esti Ismawati, Gambang Book 2014), Jaket Kuning Sukirnanto (Editor: Eka Budianta, dkk. Eugine Learning Center untuk PDS HB Jassin 2014), Memo untuk Presiden (Editor: Sosiawan Leak, Forum Sastra Surakarta 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 3 (Editor: Sosiawan Leak, Forum Sastra Surakarta 2014), Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014 Jilid 1 dan Jilid 2 (Editor: RgBagus Warsono, HMGM 2014). Saat ini aktif di Sanggar Kesenian Kolaborasi (SANGKALA), FBS, UNY. Dan tinggal di Jogja..
28.Syarif hidayatullah, di lahirkan di Marabahan, tepian sungai Barito 20 oktober. Lulusan pond-pest Al-Mujahidin Marabahan, dan Sekarang sedang di jurusan ekonomi syariah di IAIN Antasari Banjarmasin. Puisi-puisinya pernah di muat diBanjarmasinpost, Media Kalimantan,Sastra Mata Banua dan Kumpulan puisinya juga termuat di aruh sastra Kalimantan selatan ke 10 “tadarus rembulan” (2013). Antologi dewan kesenian tengerang “tifa nusantara”(2013). “solo dalam puisi” (2014). “lumbung puisi sastrawan 2014 jilid 1” (2014). “sajak untuk pemimpin negeri” (2014). “karena cinta itu manusia” (2014),menggugah Nasionalisme lewat puisi (2014, tubuh bencana (2014), lumbung puisi sastrawan Indonesia jilid 2 (2014), memo untuk presiden (2014), sang peneroka (ulang tahun 60 kurniawan junaidi) (2014),membuka cakrawala menyentuh fitrah manusia (ASKS Tapin 2014), merangkai damai (2015),lumbung puisi sastrawan Indonesia jilid III (2015),politik itu seni (2015), tentang kota yang berdetak dalam degup dada (2014),puisi menolak korupsi jilid 4 “ensiklopegila koruptor”(2015) , ada malam bertabur bintang “tadarus puisi banjarbaru” (2015) Dan buku antologi tunggalnya “estetika dalam sandiwara”. Sekarang ia bermukim di Kel. Kuripan. Kec. Banjarmasin Timur.
29.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , penyair ini tinggal di Tangerang Selatan.
30. Mahbub Junaedi, lahir di Brebes Jawa Tengah, 23 November, Alamat, Jl Raya Grengseng no 10, RT 03, RW 10 Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah 52276. Pekerjaan Wiraswasta/owner job dan Menulis. Karya-karya yang dipublikasikan: Puisinya sering terbit di New Sabah Times, Puisi sering dibaca di Radio RRI PRO 1 Semarang, terbit di Antologi Puisi bersama Deru Awang-Awang, Antologi Puisi Jejak Sajak; Sehimpun Puisi Generasi Terkini, Antologi menulis CUS Curhat Untuk SBY, Indahnya Cinta Pertama, Percaya Nggak Percaya Menulis Itu Mudah, Jatuh Cinta Menulis, Antologi Puisi Empat Negara Komunitas PBKS: Lentera Sastera, Antologi Puisi Indonesia di Titik 13, Antologi Puisi Buat Gusdur Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel diterbitkan Dewan Kesenian Kudus, Antologi Puisi Negeri Langit Persembahan Negeri Poci
31. NURAINI biasa memakai nama pena inn nuraini. Saat ini penulis bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah di kota Solo. Lahir di Sukoharjo, 07 Juni 1982. Tinggal di Bratan Rt 01 Rw 09 kel. Pajang Kec. Laweyan, Surakarta. Semasa kuliah, aktif di dunia teater yaitu di kelompok Teater Peron Surakarta FKIP UNS dan Teater Sirat IAIN Surakarta. Selama kuliah juga aktif di kelompok sastra “Sekte Soerat”. Puisi-puisinya pernah dimuat di antolologi puisi Ensiklopedia Koruptor “Puisi Melawan Korupsi Jilid IV” dan antologi “Lumbung Puisi” jilid III, antologi puisi terakota 2015.
32.Ali Syamsudin Arsi lahir di Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan. Kini tinggal di kota Banjarbaru, Prov. Kalsel. Pendiri dan Ketua Forum Taman Hati, diskusi sastra dan lingkungan, bersama M. Rifani Djamhari. Pendiri dan Pembina Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru.
Menerbitkan 7 buku ‘Gumam Asa’ yang berjudul: 1. Negeri Benang Pada Sekeping Papan (Tahura Media, Banjarmasin, Januari 2009). 2. Tubuh di Hutan Hutan (Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009). 3. Istana Daun Retak (Framepublishing, Yogyakarta, April 2010). 4. Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, Yogyakarta, Februari 2011). 5. Gumam Desau (Scripta Cendekia, Desember 2013). 6. Cau Cau Cua Cau (2A Dream Publishing, Juni 2014). 7. Jejak Batu Sebelum Cahaya (Framepublishing, Yogyakarta, Oktober 2014).
Menerbitkan buku kumpulan esai tentang Aruh Sastra Kalimantan Selatan (buku kumpulan esai bersama rekan-rekan: HE. Benyamine, Arsyad Indradi, Harie Insani Putra, Farurraji Asmuni, Tajuddin Noor Ganie): 1.Gagasan Besar, himpunan tulisan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, September, 2011). Buku puisi pribadi yang telah diterbitkan: 1. ASA (1986), 2. Seribu Ranting Satu Daun (1987), 3. Tafsir Rindu (1989 dan 2005), 4. Anak Bawang (2004), 5. Bayang-bayang Hilang (2004), 6. Pesan Luka Indonesiaku (2005), 7. Bukit-bukit Retak (2006).
Buku kumpulan puisi bersama, di Kalsel, yaitu: 1. Banjarmasin (1986), 2. Bias Puisi dalam Al-Qur’an (1987), 3. Banjarmasin dalam Puisi (1987), 4. Festival Poeisi se-Kalimantan (1992), 5. Jendela Tanah Air (1995), 6. Tamu Malam (1996), 7. Kesaksian (1998), 8. Wasi (1999), 9. Bahana (2002), 10. Narasi Matahari (2002), 11. Refortase (2004), 12. Dimensi (2005), 13. Taman Banjarbaru (2005), 14. 142 Penyair Menuju Bulan (2006), 15. Seribu Sungai Paris Berantai (2006), 16. Ronce Bunga-bunga Mekar (2007), 17. Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (2008), 18. Bertahan di Bukit Akhir (2008), 19. Menyampir Bumi Leluhur (2010), 20. Kambang Rampai, puisi anak banua (2010) 21. Seloka Bisu Batu Benawa (2011), 21. Bentara Bagang (KSI Tanah Bumbu, 2012), 22. Tadarus Rembulan (ASKS, 2013), 23. Membuka Cakrawala Membaca Fitrah Manusia (ASKS 2014), 24. Duri Duri Angin Tebing (2015).Penyair ini tingal di Banjarbaru.
33.Hasan Bisri BFC lahir di Pekalongan, 1 Desember 1963. Dewan Pendiri Komunitas Sastra Indonesia (KSI) ini menulis puisi, cerpen, esai, kritik film, kolom, humor, dan skenario. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak nasional maupun daerah. Puisi-puisinya dibacakan di MNCTV, Indosiar dan TV Edukasi. Tidak kurang dari 30 antologi puisi menghimpun puisi-puisinya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Antologi tunggalnya Jazirah Api terbit tahun 2011. Sering diundang diskusi dan membacakan puisinya di Indonesia, Brunei, Malaysia dan Thailand.Juga diundang Tadarus Puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 2013 dan 2014. Kini ia aktif bergiat di Forum Sastra Bekasi (FSB).
34.Riswo Mulyadi, lahir dengan nama Riswo anak seorang petani bernama Mulyadi yang lahir di Banyumas tanggal 06 Juli 1968, mulai aktif menulis puisi tahun 2012.
Beberapa puisinya terhimpun dalam beberapa antologi bersama : Mendaras Cahaya (2014), Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu (2014), Nayanyian Kafilah (2014), Memo Untuk Presiden (2014), Metamorfosis (2014). 1000 Haiku Indonesia (2015), Beberapa puisinya dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan (geguritan) beberapa kali dimuat di Majalah Ancas Banyumas. Kini tinggal di Desa Cihonje Kecamatan Gumelar, pinggiran Barat kabupaten Banyumas Jawa Tengah,.
35.Eddie MNS Soemanto, kelahiran Padang, 4 Mei 1968. Puisi-puisi tergabung dalam beberapa antologi, diantaranya Puisi Menolak Korupsi 2 (2013), Lumbung Puisi 1 (2014), Memo untuk Presiden (2014), Gemuruh Ingatan (2014), A Peace of Me Anthology (2014), Pengantin Langit (2014), Jaket Kuning Sukirnanto (2014), Sang Peneroka (2014), Serumpun (2015), dan Puisi Menolak Korupsi 4 (2015) . Buku kumpulan puisinya Konfigurasi Angin (1997) dan Kekasih Hujan (2014).
36.Aris Rahman Yusuf adalah nama pena dari Aris Rahmanto. Tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Suka membaca dan menulis sejak SMP, terutama puisi. Beberapa karyanya telah terbit di beberapa antologi puisi dengan penulis lainnya, diantaranya adalah: Berdoa Bersama (Taddarus Puisi, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto 2014), Memo Untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta 2014), Puisi Ramadhan (Majelis Sastra Bandung 2014), Menebar Asa di Enam Musim (Pena House 2014), Antologi puisi duet Lelaki Hujan (Pena House 2014). Bunga Rampai Terminal Sastra (KKL 2015), Majapahit Dalam Puisi (KKL 2015), Puisi Menolak Korupsi 4 ( Forum sastra Surakarta 2015). Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Metro Riau, Denpasar Pos, Malang Pos dan Radar Bekasi. Saat ini bergiat di LILIPUT (Lingkar Literasi Putih).
37.ARIF KHILA, Lahir di Pati 20 agustus 1981, Aktivitas sehari-hari adalah sebagai guru mapel Sosiologi di MA. Salafiyah Kajen Pati, salah satu pendiri di Gandrung Sastra Margoyoso (2012), aktif juga Gosek Tontonan Pati, di Teater Mina Tani Pati, Pelatih sekaligus pendiri Teater Aliyah Salafiyah ( TEASA). Antologi puisinya (Bersama Aloeth Pathi) berjudul Lukisan Kenangan (Gandrung Sastra Media, 2014), Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015)
38.Nani Tandjung. Lahir di Sibolga 26 Agustus 1950. Masih tercatat sebagai Pembina di Yayasan Pendidikan Anak Indonesia, Taman Belajar dan Bermain, Pertiwi Nusa Bhakti, Jakarta Barat. Bekerja sama dengan guru-guru suka dan relawan dengan dimulai dari fasilitas yang ada.
39.Kurnia Fajar, Dilahirkan pada 13 Oktober, 30 tahun silam di Klaten. Kemudian menempuh pendidikan formal seperti anak pada umumnya hingga lulus SMA di Wonogiri. Melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Pada masa kuliah S1, aktif dalam kegiatan kesenian kampus yang tergabung dalam Teater Peron FKIP UNS. Pendidikan terakhir adalah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Kini menjadi staf pengajar di SMA N 1 Wonogiri dan UPGRI Semarang.
___________
No Puisi , Penyair :
19. Budhi Setyawan, penyair kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat. Bergiat di Komunitas Sastra Reboan serta sebagai penggagas dan Ketua Forum Sastra Bekasi.
20.Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, kab. Bekasi, menulis fiksi dan non fiksi, bergabung di Forum Sastra Bekasi, menulis di bulletin Jejak Forum Sastra Bekasi, mengajar di SMK Ananda, Bekasi Timur dan STIE Indonesia, Jakarta
21.Dian Rusdiana, lahir di Jakarta 14 September 1978. Perempuan lulusan akuntansi Universitas Gunadarma yang hobi mendengarkan musik dan membaca. Puisi-puisinya termuat di Buletin JEJAK, Radar Bekasi, Indopos, Cakrawala Makasar, Antologi Kepada Bekasi (2013), Gemuruh Ingatan (2014), Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (2014), Empati untuk Gaza (2014), Lumbung Puisi (2014), dll. Berkegiatan di komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.
22. Bambang Widiatmoko, pengarang kelahiran Yogyakarta ini telah memiliki kumpulan puisi tunggal Pertempuran (1980), Anak Panah (1996), Agama Jam (2002), Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), dan Jalan Tak Berumah (2014). Cerpennya terhimpun dalam antologi Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan (DKS, 2002), dan Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002). Sajak-sajaknya terhimpun dalam antologi bersama penyair lain Puisi Indonesia 1987 (DKJ, 1987), Tonggak IV (1987), Antologi Puisi Indonesia (1997), Antologi berbahasa Mandarin Penyair Kontemporer Indonesia (2008), Tanah Pilih (1998), Sajak Rindu Bagi Rasul (2010), Equator (edisi tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Jerman, 2011), Akulah Musi (2011), Tuah Tara No Ale (2011), Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Penyair Menolak Korupsi (2013), Secangkir Kopi (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta (2014), dan di lebih 50 kumpulan puisi yang lain. Karyanya dibahas dalam buku kritik sastra Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik (Korrie Layun Rampan, 1980), Bahasa Puisi Penyair Bambang Widiatmoko (Fakultas Sastra UGM, 1987), Berburu Kata Mencari Tuhan (Gama Media, 2008), Perjumpaan dengan Banten (Kumpulan Esai Wan Anwar, Kubah Budaya, 2011). Bianglala Perempuan dalam Sastra (Sugihastuti, Lembah Manah, 2012). Negeri Api Berlangit Puisi (KSI, 2013). Ikut menulis esai di buku In Memoriam Titie Sahid, Jejak Kepergian (Aksara, 2012) dan Jaket Kuning Sukirnanto (2014), serta di buku makalah seminar internasional Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), tahun 2010, 2012, dan 2015. Kumpulan esainya Kata Ruang (Leksika, 2015). Dia diundang mengikuti 33rd World Congress Of Poets di Ipoh Malaysia, 2013. Kini tercatat sebagai Anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), staf pengajar ilmu komunikasi pada beberapa universitas di Jakarta, dan Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat.
23.Heru Mugiarso. Lahir di Grobogan, lima puluh empat tahun lalu. Aktif melakukan berbagai aktivitas sastra. Antologi puisinya yang telah terbit Tilas Waktu ( 2011) . Inisiator gerakan Puisi Menolak Korupsi yang diikuti oleh ratusan penyair Indonesia.
24. Ayid Suyitno PS adalah Lulusan SMA Negeri 31 Jakarta tahun 1979 dan IKIP Jakarta tahun 1983. "Menunggu Kasih" adalah puisi pertamanya yang dimuat media massa (majalah GADIS) pada 1977. Bergabung di Teater Jakarta Timur pimpinan Dorman Borisman dan Syarifuddin A.Ch pada 1978-1983. Diundang Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dalam forum "Puisi Indonesia 1987" dan "Dialog Penyair Jakarta 1989". Dewan Pendiri Kelompok Diskusi Sastra Kita, Jakarta, sejak 1984. Dewan Pendiri Komunitas Sastra Indonesia sejak 1996. Wartawan olahraga sejak 1983. Lebih 100 media dari koran sampai jurnalisme warta memuat tulisannya. 100 lebih lainnya menjadi Donor Darah di Palang Merah Indonesia cabang DKI Jakarta di Kramat Raya, Jakarta Pusat. Tinggal di Pondok Kebalen Kab. Bekasi, Jawa Barat.
25. Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya dimuat Mata Media antologi bersama, Lumbung Puisi Sastrawan 2014, kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jln. Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso-Pati.
26.Osratus, adalah nama pena, dari Sutarso nama sebenarnya. Lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 8 Maret 1965. Pindah ke Sorong (Papua Barat), Tahun 1981. Pendidikan S1, Jurusan Administrasi Negara. Menulis puisi sejak tahun 1981. Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Muhammadiyah Sorong (2006 – 2010). Buku Puisi : Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (antologi bersama, 2015), Puisi Menolak Korupsi Jilid IV (antologi bersama, 2015). Tinggal di Sorong Papua.
27.Andrian Eksa lahir di Boyolali, 15 Desember 1995. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY. Beberapa karyanya, berupa puisi, tergabung dalam beberapa buku antologi bersama. Seperti, Sang Peneroka (Editor: Esti Ismawati, Gambang Book 2014), Jaket Kuning Sukirnanto (Editor: Eka Budianta, dkk. Eugine Learning Center untuk PDS HB Jassin 2014), Memo untuk Presiden (Editor: Sosiawan Leak, Forum Sastra Surakarta 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 3 (Editor: Sosiawan Leak, Forum Sastra Surakarta 2014), Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014 Jilid 1 dan Jilid 2 (Editor: RgBagus Warsono, HMGM 2014). Saat ini aktif di Sanggar Kesenian Kolaborasi (SANGKALA), FBS, UNY. Dan tinggal di Jogja..
28.Syarif hidayatullah, di lahirkan di Marabahan, tepian sungai Barito 20 oktober. Lulusan pond-pest Al-Mujahidin Marabahan, dan Sekarang sedang di jurusan ekonomi syariah di IAIN Antasari Banjarmasin. Puisi-puisinya pernah di muat diBanjarmasinpost, Media Kalimantan,Sastra Mata Banua dan Kumpulan puisinya juga termuat di aruh sastra Kalimantan selatan ke 10 “tadarus rembulan” (2013). Antologi dewan kesenian tengerang “tifa nusantara”(2013). “solo dalam puisi” (2014). “lumbung puisi sastrawan 2014 jilid 1” (2014). “sajak untuk pemimpin negeri” (2014). “karena cinta itu manusia” (2014),menggugah Nasionalisme lewat puisi (2014, tubuh bencana (2014), lumbung puisi sastrawan Indonesia jilid 2 (2014), memo untuk presiden (2014), sang peneroka (ulang tahun 60 kurniawan junaidi) (2014),membuka cakrawala menyentuh fitrah manusia (ASKS Tapin 2014), merangkai damai (2015),lumbung puisi sastrawan Indonesia jilid III (2015),politik itu seni (2015), tentang kota yang berdetak dalam degup dada (2014),puisi menolak korupsi jilid 4 “ensiklopegila koruptor”(2015) , ada malam bertabur bintang “tadarus puisi banjarbaru” (2015) Dan buku antologi tunggalnya “estetika dalam sandiwara”. Sekarang ia bermukim di Kel. Kuripan. Kec. Banjarmasin Timur.
29.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , penyair ini tinggal di Tangerang Selatan.
30. Mahbub Junaedi, lahir di Brebes Jawa Tengah, 23 November, Alamat, Jl Raya Grengseng no 10, RT 03, RW 10 Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah 52276. Pekerjaan Wiraswasta/owner job dan Menulis. Karya-karya yang dipublikasikan: Puisinya sering terbit di New Sabah Times, Puisi sering dibaca di Radio RRI PRO 1 Semarang, terbit di Antologi Puisi bersama Deru Awang-Awang, Antologi Puisi Jejak Sajak; Sehimpun Puisi Generasi Terkini, Antologi menulis CUS Curhat Untuk SBY, Indahnya Cinta Pertama, Percaya Nggak Percaya Menulis Itu Mudah, Jatuh Cinta Menulis, Antologi Puisi Empat Negara Komunitas PBKS: Lentera Sastera, Antologi Puisi Indonesia di Titik 13, Antologi Puisi Buat Gusdur Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel diterbitkan Dewan Kesenian Kudus, Antologi Puisi Negeri Langit Persembahan Negeri Poci
31. NURAINI biasa memakai nama pena inn nuraini. Saat ini penulis bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah di kota Solo. Lahir di Sukoharjo, 07 Juni 1982. Tinggal di Bratan Rt 01 Rw 09 kel. Pajang Kec. Laweyan, Surakarta. Semasa kuliah, aktif di dunia teater yaitu di kelompok Teater Peron Surakarta FKIP UNS dan Teater Sirat IAIN Surakarta. Selama kuliah juga aktif di kelompok sastra “Sekte Soerat”. Puisi-puisinya pernah dimuat di antolologi puisi Ensiklopedia Koruptor “Puisi Melawan Korupsi Jilid IV” dan antologi “Lumbung Puisi” jilid III, antologi puisi terakota 2015.
32.Ali Syamsudin Arsi lahir di Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan. Kini tinggal di kota Banjarbaru, Prov. Kalsel. Pendiri dan Ketua Forum Taman Hati, diskusi sastra dan lingkungan, bersama M. Rifani Djamhari. Pendiri dan Pembina Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru.
Menerbitkan 7 buku ‘Gumam Asa’ yang berjudul: 1. Negeri Benang Pada Sekeping Papan (Tahura Media, Banjarmasin, Januari 2009). 2. Tubuh di Hutan Hutan (Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009). 3. Istana Daun Retak (Framepublishing, Yogyakarta, April 2010). 4. Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, Yogyakarta, Februari 2011). 5. Gumam Desau (Scripta Cendekia, Desember 2013). 6. Cau Cau Cua Cau (2A Dream Publishing, Juni 2014). 7. Jejak Batu Sebelum Cahaya (Framepublishing, Yogyakarta, Oktober 2014).
Menerbitkan buku kumpulan esai tentang Aruh Sastra Kalimantan Selatan (buku kumpulan esai bersama rekan-rekan: HE. Benyamine, Arsyad Indradi, Harie Insani Putra, Farurraji Asmuni, Tajuddin Noor Ganie): 1.Gagasan Besar, himpunan tulisan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, September, 2011). Buku puisi pribadi yang telah diterbitkan: 1. ASA (1986), 2. Seribu Ranting Satu Daun (1987), 3. Tafsir Rindu (1989 dan 2005), 4. Anak Bawang (2004), 5. Bayang-bayang Hilang (2004), 6. Pesan Luka Indonesiaku (2005), 7. Bukit-bukit Retak (2006).
Buku kumpulan puisi bersama, di Kalsel, yaitu: 1. Banjarmasin (1986), 2. Bias Puisi dalam Al-Qur’an (1987), 3. Banjarmasin dalam Puisi (1987), 4. Festival Poeisi se-Kalimantan (1992), 5. Jendela Tanah Air (1995), 6. Tamu Malam (1996), 7. Kesaksian (1998), 8. Wasi (1999), 9. Bahana (2002), 10. Narasi Matahari (2002), 11. Refortase (2004), 12. Dimensi (2005), 13. Taman Banjarbaru (2005), 14. 142 Penyair Menuju Bulan (2006), 15. Seribu Sungai Paris Berantai (2006), 16. Ronce Bunga-bunga Mekar (2007), 17. Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (2008), 18. Bertahan di Bukit Akhir (2008), 19. Menyampir Bumi Leluhur (2010), 20. Kambang Rampai, puisi anak banua (2010) 21. Seloka Bisu Batu Benawa (2011), 21. Bentara Bagang (KSI Tanah Bumbu, 2012), 22. Tadarus Rembulan (ASKS, 2013), 23. Membuka Cakrawala Membaca Fitrah Manusia (ASKS 2014), 24. Duri Duri Angin Tebing (2015).Penyair ini tingal di Banjarbaru.
33.Hasan Bisri BFC lahir di Pekalongan, 1 Desember 1963. Dewan Pendiri Komunitas Sastra Indonesia (KSI) ini menulis puisi, cerpen, esai, kritik film, kolom, humor, dan skenario. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak nasional maupun daerah. Puisi-puisinya dibacakan di MNCTV, Indosiar dan TV Edukasi. Tidak kurang dari 30 antologi puisi menghimpun puisi-puisinya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Antologi tunggalnya Jazirah Api terbit tahun 2011. Sering diundang diskusi dan membacakan puisinya di Indonesia, Brunei, Malaysia dan Thailand.Juga diundang Tadarus Puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 2013 dan 2014. Kini ia aktif bergiat di Forum Sastra Bekasi (FSB).
34.Riswo Mulyadi, lahir dengan nama Riswo anak seorang petani bernama Mulyadi yang lahir di Banyumas tanggal 06 Juli 1968, mulai aktif menulis puisi tahun 2012.
Beberapa puisinya terhimpun dalam beberapa antologi bersama : Mendaras Cahaya (2014), Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu (2014), Nayanyian Kafilah (2014), Memo Untuk Presiden (2014), Metamorfosis (2014). 1000 Haiku Indonesia (2015), Beberapa puisinya dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan (geguritan) beberapa kali dimuat di Majalah Ancas Banyumas. Kini tinggal di Desa Cihonje Kecamatan Gumelar, pinggiran Barat kabupaten Banyumas Jawa Tengah,.
35.Eddie MNS Soemanto, kelahiran Padang, 4 Mei 1968. Puisi-puisi tergabung dalam beberapa antologi, diantaranya Puisi Menolak Korupsi 2 (2013), Lumbung Puisi 1 (2014), Memo untuk Presiden (2014), Gemuruh Ingatan (2014), A Peace of Me Anthology (2014), Pengantin Langit (2014), Jaket Kuning Sukirnanto (2014), Sang Peneroka (2014), Serumpun (2015), dan Puisi Menolak Korupsi 4 (2015) . Buku kumpulan puisinya Konfigurasi Angin (1997) dan Kekasih Hujan (2014).
36.Aris Rahman Yusuf adalah nama pena dari Aris Rahmanto. Tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Suka membaca dan menulis sejak SMP, terutama puisi. Beberapa karyanya telah terbit di beberapa antologi puisi dengan penulis lainnya, diantaranya adalah: Berdoa Bersama (Taddarus Puisi, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto 2014), Memo Untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta 2014), Puisi Ramadhan (Majelis Sastra Bandung 2014), Menebar Asa di Enam Musim (Pena House 2014), Antologi puisi duet Lelaki Hujan (Pena House 2014). Bunga Rampai Terminal Sastra (KKL 2015), Majapahit Dalam Puisi (KKL 2015), Puisi Menolak Korupsi 4 ( Forum sastra Surakarta 2015). Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Metro Riau, Denpasar Pos, Malang Pos dan Radar Bekasi. Saat ini bergiat di LILIPUT (Lingkar Literasi Putih).
37.ARIF KHILA, Lahir di Pati 20 agustus 1981, Aktivitas sehari-hari adalah sebagai guru mapel Sosiologi di MA. Salafiyah Kajen Pati, salah satu pendiri di Gandrung Sastra Margoyoso (2012), aktif juga Gosek Tontonan Pati, di Teater Mina Tani Pati, Pelatih sekaligus pendiri Teater Aliyah Salafiyah ( TEASA). Antologi puisinya (Bersama Aloeth Pathi) berjudul Lukisan Kenangan (Gandrung Sastra Media, 2014), Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015)
38.Nani Tandjung. Lahir di Sibolga 26 Agustus 1950. Masih tercatat sebagai Pembina di Yayasan Pendidikan Anak Indonesia, Taman Belajar dan Bermain, Pertiwi Nusa Bhakti, Jakarta Barat. Bekerja sama dengan guru-guru suka dan relawan dengan dimulai dari fasilitas yang ada.
39.Kurnia Fajar, Dilahirkan pada 13 Oktober, 30 tahun silam di Klaten. Kemudian menempuh pendidikan formal seperti anak pada umumnya hingga lulus SMA di Wonogiri. Melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Pada masa kuliah S1, aktif dalam kegiatan kesenian kampus yang tergabung dalam Teater Peron FKIP UNS. Pendidikan terakhir adalah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Kini menjadi staf pengajar di SMA N 1 Wonogiri dan UPGRI Semarang.
___________
Penulis
Rg Bagus Warsono (lahir di Tegal, Jawa
Tengah, 29 Agustus 1965; umur 49 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Menulis
sejak bangku sekolah berupa puisi di Pikiran Rakyat edisi Cirebon, dan sejak
tahun (1985) menulis puisi, cerita pendek, cerita anak, dan artikel di berbagai
media massa di antara lain Majalah Gentra Pramuka, Bekal Pembina, Mingguan
Pelajar, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Binakop, Bhinneka Karya Winaya, Suara
Guru, dan Suara Daerah. Buku puisinya antara lain Bunyikan Aksara Hatimu
(1992), Jangan Jadi sastrawan , Indhi Publishing (2014), Jakarta Tak Mau Pindah
(Indhie publishing, Jakarta 2014), Si Bung (Leutikaprio, Yogyakarta 2014), dan
Mas Karebet (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015). Selain sebagai menyair, dia
mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca.
Setamat
SPG melanjutkan ke UTPGSD , kemudian ke STAI Salahudin di Jakarta, dan
Mengambil Magister STIA Yappan Jakarta. Sambil menjadi Guru , dia menggeluti
profesi sebagai jurnalis sejak tahun (1992), reporter Majalah Gentra Pramuka
dan Hamdalah (1999), kegiatan reportasi di bawah organisasi profesi Persatuan
Wartawan Indonesi (PWI) Cabang jawa Barat dan pengamat sinetron. Kini, Rg Bagus
Warsono adalah pengasuh sanggar sastra Meronte Jarring di Indramayu yang
didirikan 2011 dan coordinator Himpunan Masyarakat Gemar membaca (HMGM) sejak
tahun 1992 yang berpusat di Indramayu. Sejak tahun 2014 dia adalah penggagas
antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang dikelolanya sejak 2013 untuk
mendokumentasikan karya-karya penyair terkini dari seluruh Indonesi, kini telah
menerbitkan jilid III yang diterbitkan oleh penerbit Sibuku Media, yogyakarta,
tokoh lainnya dalam lumbung puisi adalah Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso,
Tomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri, BSC, Dyah Styawati, Ahmad RH zaid, dan
Ali Arsy. Aktif sebagai penggagas, kurator, editor, sekaligus ikut membidani
terbitnya buku Saksi Ibu Melihat Reformasi (2012). Rg Bagus Warsono tercatat
kerap menyelenggarakan berbagai lomba baca/cipata puisi dan mengasuh remaja
belajar sastra di sanggar Meronte Jaring.
Karya
antara lain:
Antologi
Puisi :Bunyikan Aksara Hatimu,Jangan Jadi sastrawan,Jakarta Tak Mau Pindah,Si
Bung,Mas Karebet,
Antologi
Bersama:Puisi Menolak Korupsi,Memo untuk Presiden,Tifa Nusantara 1,
Penghargaan
: Penulis Cerita Anak Depdikbud 2004.
______________
Langganan:
Komentar (Atom)


