Selasa, 11 Agustus 2015

Surau Kampung Gelatik


Sampul buku antologi Surau kampung Gelatik

Surau Kampung Gelatik Rg Bagus Warsono,dkk

Sekumpulan Puisi



Surau Kampung Gelatik

Rg Bagus Warsono,dkk


Penyair di antologi Surau Kampung Gelatik

Penyair : Rg Bagus Warsono, dkk


Daftar  Penyair Pendukung Antologi

1. Budhi Setyawan, Bekasi.
2. Bagus Setyoko Purwo , Jakarta
3. Dian Rusdiana, Bekasi.
4.  Bambang Widiatmoko, Jakarta.
5. Heru Mugiarso, Semarang.
6. Ayid Suyitno PS, Bekasi.
7. Aloeth Pathi, Margoyoso-Pati.
8. Osratus,  Sorong Papua.
9. Andrian Eksa,Boyolali.
10.Syarif hidayatullah, Banjarmasin Timur.
11.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , Tangerang Selatan.
12.Mahbub Junaedi, Brebes .
13.NURAINI , Solo.
14.Ali Syamsudin Arsi,Banjarbaru.
15.Hasan Bisri BFC , Bogor.
16.Riswo Mulyadi, Banyumas Jawa Tengah.
17.Eddie MNS Soemanto, kelahiran Padang
18.Aris Rahman Yusuf Mojokerto, Jawa Timur.
19.ARIF KHILA, Pati.
20.Nani Tandjung, Jakarta.
21.Kurnia Fajar, Wonogiri.
___________





Daftar Isi

Daftar Isi
1.Mushola kecil di kampung gelatik..................
2.Tiga orang dalam satu sajadah......................
3.Kubah pesegi dengan memolo alumunium....
4.Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu
     Lahap............................................................
5.Asap empal gentong......................................
6.Kunanti tajilmu.............................................
7.Panjangkan RamadhanMu............................
8.Damai di buah hati terpejam........................
9.Di wajah terpejam istri ................................
10.Kuganti sampulku ......................................
11.Selera mimpi indahmu.................................
12.Berjajar sepanjang tikar.............................
13.Gadis berkerudung......................................
14.Damai di musholah senja............................
15.Masih ada hari esok.....................................
16.Bersyukur atas nikmat Kau berikan...........
17.Di 10 Hari ketiga..........................................
18.Tunggu aku di Lempuyangan......................
19.Puasaku........................................................
20.Surga Ramadhan........................................
21.Kerinduanku................................................
22.Terjepit di Surau..........................................
23.Metamorfosis Ramadhan............................
24.Di Pagi yang Basah....................................
25.Menjelang Subuh.........................................
26. Tetes-tetes Protes, Seputih Tasbih..............
27.Ramadhan Penuh Ampunan........................
28. Ayat-Mu di kerlip Malam-Nuzulu Qur’an
29.Ramadhan ke-3............................................
30.Embun di Padang Mahsyar........................
31.Ramadhan....................................................
32.Sujud Lubang Kembali................................
33.Ingin Kedekap 1000 Bulan..........................
34.Mencari Ramadlanku...................................
35.Alangkah Berat Berpisah Denganmu..........
36.Baju Baru......................................................
37. Izinkan Aku Berperang................................
38.Siapakah Manusia Sempurna?....................
39.Saat................................................................

Pengantar penulis Surau Kampung Gelatik

Pengantar

Asalammualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Sajian syair-syair Ramadhan pada 1436 H yang sengaja ditulis sebagai bagian hidup penyair mengisi kegiatan di saat menjalankan ibadah saum Ramadhan. Puisi yang memotret kenyataan Ramadhan di Indonesia dengan penuh makna dan aneka suasana, namun juga harap.
Ingin rasanya memenuhi semua yang ada, namun tak begitu mudah menemukan inspirasi yang dapat menjadikan sebuah buku dalam satu tema tersendiri.
Buku ini pun mendapat warna  penyair-penyair pendukung  sebagai sorotan  dari makna Ramadhan di Indonesia itu. Jadilah sebuah anologi yang dapat dinikmati pembaca di manapun. Sungguhpun demikian kami  mengucapkan salam dan penghargaan bagi pembaca atas apresiasi antologi ini. Rasa syukur atas terbitnya antologi ini sebagai hikmah Ramadhan dari penyair berupa  lahirnya puisi dengan judul Surau Kampung Gelatik
Wasaalam.
                                                                                                              Penulis


Esai Surau Kampung Gelatik

Dari tarawih hingga berbuka
Oleh: Nurochman Soedibyo, Ys
Surau Kampung Glatik cukup menggelitik bagi sebuah karya puisi yang mengetengahkan suasana saum Ramadhan yang dipotret oleh kaca-mata penyairnya. Rg Bagus warsono memang patut mendapat apresiasi juga karya puisi penyair pendukung di antologi ini.
Puisi-puisi pendeknya tampak padat namun enak dibaca suguhan bacaan yang ringan dan enak dibaca, tampaknya Rg bagus Warsono tidak ingin membuat perdebatan terlalu panjang, sederhana namun berkesan saat Ramadhan itu. Seperti dalam: “Mushola kecil di kampung gelatik”:
//Mushola kecil di kampung gelatik
kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu...//

Bagaimana menggambarkan ramainya suasana ibadah disaat Ramadhan di sebuah kampung hanya sepotong bait yang pendek namun cukup luas diapresiasi. Kemudian menyoroti ramainya kuliner di bulan itu seperti dalam : “Asap empal gentong”

//di tengah tani pleret cirebon
sampai pagi
dan kulit telinga sapi
lontong habis berganti nasi
sibuknya tukang parkir
berjajar memenuhi rumah kuliner
apimu memanggil ibu malas...//

Sama halnya dengan puisi yang lain :”Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu lahap”

//...ramadhan yang penuh rezeki
gratis makan sahurmu
keringat malam dalam panasnya neon
bercampur tadharus malam
dan ketika mushola mengingatkan sahur
serta musik klasik berkeliling
majikan menyedikan makan buruhnya
piring berjajar
dengan sayur, sambal dan gesek ikan
makanmu lahap menyambut imsyak.//

Cuplikan puisi-puisi di atas rasanya cupup membuat menarik buku ini, sederhana namun juga menggelitik. Dalam
“Kunanti tajilmu” gambaran anak-anak surau di desa meyakinkan bahwa penyair ini cukup jeli menangkap situasi sosial:
//sejak bagda duhur
anak-anak memenuhi surau kecil
canda guyon mereka
sampai kopiah menutupi wajah
bunyi perut lapar
dan nafas mulut dari sarungnya
meringkuk bergelimpangan...//....
//...ketika ibu-ibu membawa nampan ke surau
bertambah yakin kebagian....//
Membuat pesona juga bagi mereka yang berada di kota besar, saat berbuka puasa di desa sungguh suatu kerinduan . Saat menangkap berbuka puasa bersama  , sebuah pesona iri bagi yang tak merasakan nikmatnya suasana di perdesaan:  “Berjajar sepanjang tikar”
//Membentang
dengan nasi dan sepotong ikan
sayur daun talas
sambal terasi dan timunsuri muda
menit menunggu saudara shalat magrib
berbuka puasa ala kampung gelatik
berjajar sepanjang tikar//

Bertambah lengkaplah sempurnalah antologi ini ketika tampil “Ingin Kedekap 1000 Bulan” karya Hasan Bisri BFC, “Terjepit di Surau”  karya Bambang Widyatmoko, “Mencari Ramadlanku” karya Riswo Mulyadi serta karya karya dari penyair populair pendukung antologi ini.
Lalu penyair ini memberi harap  “Tunggu aku di Lempuyangan”

‘’Dengan Gaya Baru Malam Selatan
merangsak menembus malam
diterjang bising roda besi beradu
menindih rel menunjukan jalanku...” Suatu untaian realis yang
diujung Ramadhan itu ada harap utuk merekat tali silaturahmi bersama keluarga , sebuah budaya oulang kampung  yang tak dimiliki oleh bangsa lain.
Akhirnya sampailah kita melewati jalan berliku berkelok dan melihat “Kubah pesegi dengan memolo alumunium”  dari tepi jalan sebuah surau antologi kecil :
//di atas bukit tampak dari jalan raya menuju kotamu
dua kubah anakan tampa memolo
dikerumuni rindangan pohon-pohon
Ingin segera samapai
bersama mengecat pintu
melabur kapur tembok putihmu
agar tampak dari jalan di atas bukit
masjid jami desa...//

Nurochman Soedibyo, Ys ( Seniman tingal di Tegal)





1
   Rg Bagus Warsono

Mushola kecil di kampung gelatik

kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu
namun khusuk sholat
hanya suara toa kecil bercampur nafas jamaah
18-6-2015










1
   Rg Bagus Warsono

Mushola kecil di kampung gelatik

kini penuh sesak
ramadhan membludak
toa kecil lantang adzan
dan beduk menggetar
sesak berhimpit dirumahMu
namun khusuk sholat
hanya suara toa kecil bercampur nafas jamaah
18-6-2015











2
                                                                    Rg Bagus Warsono

Tiga orang dalam satu sajadah

dinginnya dinihari
surau kecil di sudut pemukiman
yang diberi jatah satu kapling
kami sujud mengikuti imam tua
tiga orang dalam satu sajadah
malam dingin disurau
bertahan menyangga tiangMu
                                                                                                                   Indramayu, Juni 2015









3
                                                                        Rg Bagus Warsono

Kubah pesegi dengan memolo alumunium

di atas bukit tampak dari jalan raya menuju kotamu
dua kubah anakan tampa memolo
dikerumuni rindangan pohon-pohon
Ingin segera samapai
bersama mengecat pintu
melabur kapur tembok putihmu
agar tampak dari jalan di atas bukit
masjid jami desa
dengan tiang jati
menyangga kubah pesegi
tangan pemuda santri
di depan menjagamu
                                                                                                                   Indramayu, Juni 2015






4
                                                                      Rg Bagus Warsono

Buruh pengrajin di plered cirebon sahurmu lahap

setelah tarawih di pleret tengah tani cirebon
mereka datang pada majikan
para pengrajin segala makanan
bungkus, kupas, cuci,jahit, ikat
sampai pekakas tradisional
disentra jepangnya cirebon
majikan yang baik
ramadhan yang penuh rezeki
gratis makan sahurmu
keringat malam dalam panasnya neon
bercampur tadharus malam
dan ketika mushola mengingatkan sahur
serta musik klasik berkeliling
majikan menyedikan makan buruhnya
piring berjajar
dengan sayur, sambal dan gesek ikan
makanmu lahap menyambut imsyak.
cirebon, 22-6-15



5
                                                                          Rg Bagus Warsono

Asap empal gentong

di tengah tani pleret cirebon
sampai pagi
dan kulit telinga sapi
lontong habis berganti nasi
sibuknya tukang parkir
berjajar memenuhi rumah kuliner
apimu memanggil ibu malas
asapmu menyegarkan mata berkunang
menggugah selera
sahur dimana saja
makan apa saja
asap empal membawa aroma
di gentongmu penuh rupiah
rejeki ternyata ada membagi
siapa mau menghirup asap
empal gentong tengah tani pleret cirebon
dawuan 22-6-15




6
                                                                         Rg Bagus Warsono

Kunanti tajilmu

sejak bagda duhur
anak-anak memenuhi surau kecil
canda guyon mereka
sampai kopiah menutupi wajah
bunyi perut lapar
dan nafas mulut dari sarungnya
meringkuk bergelimpangan
hingga ashar bercuci muka
dan makin banyaklah anak-anak itu
di surau kecil nan asri
mereka menghitung berapa banyak kiriman
makanan kecil berbuka
ketika ibu-ibu membawa nampan ke surau
bertambah yakin kebagian
dan marbot membungkus kecil tajil
mengitung berapa banyak jamaah
hanya tajil kecil
berarti bagi anak-anak
ibu-ibu kunanti tajilmu
agar suraumu ramai.
Rg Bagus Warsono, 23-6-2015

7
                                                                       Rg Bagus Warsono

Panjangkan RamadhanMu

Di sebuah lampu merah
silang jalan Waiki
pemuda pemudi membagi makanan kecil
batalkan puasamu di magrib nanti
indah nian dunia di kotaku kecil ini
Di balik bak sampah
jalan pasar Tanjungpura
pengemis tua menghitung receh
semoga besok demikian ini
begitu baik penduduk Indramayu
Di sebuah perumahan
rumah para pejabat negeri
keluar dari komplek itu kaum peminta sedekah
katanya, komplek perumahan dermawan.
Di pertokoan Amad Yani,
Kaleng receh tersedia
tak ada tulisan "pengamen khusus hari jumat"
tak ada lambaian kata maaf menolak
mereka mengulurkan tangan pada pengamen jalanan
Di sebuah rumah
istri marbot masjid RW
setiap hari
makanan, beras, uang ada saja yang memberi suami
katanya panjangkan RamadhanMu !
(rg bagus warsono, 23-6-15)
















8                                                                    

                                                                     Rg Bagus Warsono

Damai di buah hati terpejam

hampa peluk bantal
kemarin esok sama tahu apa
hanya hari di masanya
harap senang masamu kecil

                                                                                                                   Indramayu, Juni 2015









9
                                                                         Rg Bagus Warsono

Di wajah terpejam istri

ada harap sesak
dan kerut klasik hari hari
penuh tanya kapan
namun ikhlas ia terpejam
sehingga tak terbaca
hanya karena kewajiban diri
di wajah terpejam
sedih melihat kapan
hanya menunggu
pagi gembira kapan
                                                                                                                   Indramayu, Juni 2015







10
Rg Bagus Warsono

Kuganti sampulku

bukan karena robek
atau kusam keringat telapak
wajah baru hati baru
orang baru yang tak asing
baru kemarin hanya sampul
menutupi isi yang makin lapuk
                                                                                                                   Indramayu, Juni 2015










11

Rg Bagus Warsono
Selera mimpi indahmu
Tersenyum adik dari petiduran
rupanya mimpi menyenangkan
sahurmu malam
selera mimpi indahmu
dan teh manis penutup makan
malam ini tumben
menyenangkan
orang lain
Indramayu, Juli 2015

Berjajar sepanjang tikar

12

Rg Bagus Warsono

Berjajar sepanjang tikar

Membentang
dengan nasi dan sepotong ikan
sayur daun talas
sambal terasi dan timunsuri muda
menit menunggu saudara shalat magrib
berbuka puasa ala kampung gelatik
berjajar sepanjang tikar
Indramayu, Juli 2015


Gadis berkerudung

13

Rg Bagus Warsono
Gadis berkerudung

Gadis berkerudung
hidung mancung
pipi lesung
gigi siung
alis lengkung
dari kampung
jadi bingung
Indramayu, Juli 2015







Damai di musholah senja

14
Rg Bagus Warsono

Damai di musholah senja

Adzan rumah kita
asap rokok, abu dan api tembakau
yang memanasi hati tersiram wudlu
damai di mushola senja
hening dari rencana kehidupan
yang kotor oleh lembar rupiah
dan ambisi
kau dan aku sama
di mushola senja
Indramayu, Juli 2015

Masih ada hari esok

15
Rg Bagus Warsono

Masih ada hari esok
walau matahari tak mau tenggelam
melihat mereka yang masih mengorek-orek bak sampah
dan berebut sebungkus nasi
Tinggalkan aku di senjamu mu
masih ada hari esok
dan kita bertarung rezeki
Indramayu, Juli 2015


Bersyukur atas nikmat Kau berikan

16
Rg Bagus Warsono

Bersyukur atas nikmat Kau berikan

rezeki beraneka
malu aku sombong takabur
Kau memberi tanpa berkata
Kau sedekah tapi bersembunyi
Kau tak menghitung jumlah
malu aku sombong takabur
Indramayu, Juli 2015


Di 10 Hari ketiga

Rg Bagus Warsono

Di 10 Hari ketiga

Kobarkan semangat
digenggam erat senapan
ranjau-ranjau palsu
tentu tak menembak kepala
aku tembaklah hatinya
tak hamburkan amunisimu
karena perang tak berkesudahan
tebal benteng pertahanan
hitung mesiu
granat yang meronta-ronta

Indramayu, Juli 2015



Tunggu aku di Lempuyangan

18.
Rg Bagus Warsono

Tunggu aku di Lempuyangan

Dengan Gaya Baru Malam Selatan
merangsak menembus malam
diterjang bising roda besi beradu
menindih rel menunjukan jalanku
rumah keluarga lebaran masa lalu
terpejam oleh suara lagu peluit malam
sesekali hati menghitung rupiah
untuk jumlah seisi rumah
aku harapanmu,
menjadi kebanggaan mereka
ketika satu persatu membayang wajah
kereta berhenti mengalah
masihjauhkah
tunggu aku di Lempuyangan

(12-07-15 Rg Bagus Warsonoi)


Puisi Penyair Pendukung Surau Kampung gelatik

19.
Budhi Setyawan

Puasaku

puasaku ini adalah puasanya bumi dan langit
menunggu pesan nirmala bagi semesta
puasaku adalah puasanya jasad dan ruh
menahan dari amuk kasat dan tak kasat mata
adalah rindu tanah saat kemarau
pada hujan untuk mendaur kesuburan
adalah rindu tulang dan darah
pada sepoi kesunyian detak silam
: maka biarlah kesabaran menempuh jalannya
bersama ayat ayat yang dirapalkan musim
kepada pepohonan usia yang menggigil
mencatat daun jatuh hingga sujud penghabisan
: maka biarlah kebijakan menuntun pandang
sukma kepada pencetus rindu semula
yang kuasa menghadirkan jalinan ruang
di segala kisi angan dan penyebutan
Jakarta, 2015


20.
Bagus Setyoko Purwo



Surga Ramadhan

: tercipta untuk mereka yang dikehendaki-Nya
sabar menapaki takdir
kita tempuh keridhoan hidup dengan meneruskan ikhtiar
menyusuri lorong-lorong ramadan
terlihat di setapak perjalanan kita
di situlah surga ramadan
:sabar.ridho.tawakkal – mari kita memohon itu

2014





21.
Dian Rusdiana

Kerinduanku

berabad abad tak bersua
bilakah kudapatkan bouraq agar bisa setakat
memandang teduh wajahmu
bercakap dan kupelajari segala kearifan
kekasih, pohon rindu yang kau tanamkan
kian berkembang kesabaran
berdaun ketulusan
berbuah keridhaan
di kesyahduan ayat ayat kasih
kutumpahkan kerinduan
kumaknai pada tiap denyut nadi
di kedalaman sukma kuresapi syair syair kesejatianmu

2014



22
Bambang Widiatmoko

TERJEPIT DI SURAU

Sebuah surau terpencil di perkebunan karet
Menjepitku dalam kesendirian dan rasa sunyi
Aku mencarimu dalam rasa gelisah tak tentu arah
Dalam pengembaraan pencarian jati diri
Tapi rasa sunyi demikian menyakitkan hati
Seperti batang pohon karet yang ditoreh tubuhnya
Meski berwarna putih dialah puncak dari segala perih

Sebuah surau terpencil di atas bukit
Telah menahanku untuk berdiam diri
Menunggu Idul Fitri esok sisa embun pagi
Dengan segala keasingan dan bahasa tak kupahami
Bahkan suara burung pun terasa mengganggu
Sepanjang usia menemu lebaran dalam ruang dan waktu
Di tangan tuhan aku selalu mengamini – dialah sejatinya rindu.

2015





23
HERU MUGIARSO

METAMORFOSIS RAMADAN

Episode praramadan:
ulat bergeriap siap menelan
Apa yang tampak di depan
Nafsu aluamah tertumpah
semen dan besi pun siap dimamah
Episode ramadan:
Kepompong bergelantung
Bergeming dari kalkulasi rugi dan untung
khusuk bertapa dalam riuh dunia
disapa cahaya
Episode pascaramadan:
Indahnya ramarama
berparas jelita
kembali ke jati diri
pribadi fitri
Ramadan, 1436H



















24.
Ayid Suyitno PS

DI PAGI YANG BASAH

hanya kebaikan terbayang di mata
tak ada kendala melaksanakannya
jika selama ini telah berjalan lancar
tentu kini harus lebih dipersegar
hati dan jiwa terus melangkah
menuju batas rindu kasih Allah
dalam ikhlas dan berserah
dibalut semangat pantang menyerah
di pagi yang basah
aku menghadapMu ya Allah
Ramadhan, 1436 H

























25.
Aloeth Pathi

Kelingan: Saur Pertama
Menjelang Subuh


Rindu ini datang tiba-tiba
ketika suara qiro'ah mengalun dari kaset di sebuah masjid
mengingatkan ku pada Suro kecil di kampung
dan dampar tempat mengaji

Rindu ini datang tiba-tiba
Ketika jemariku menyentuh bibir gelas
lekukan piring, sendok
mengingatkan dapur ibu di masa kecilku dulu
dan meja bambu tempat saur bersama

hari ini aku makan sendirian
hanya nasi putih, sambal, tempe goreng
dan segelas air putih

Tuhan
Terima kasih atas nikmat karunia Mu
Serta rasa syukur bertemu Ramadhan


Sekarjalak, 18 Juni 2015










26.
Osratus

TETES-TETES PROTES, SEPUTIH TASBIH

“Lihatlah,
dengan mata hati yang bersih dari fitnah
Dalam butir-butir putih tasbih,
ada bening telaga takwa yang teraih
Perahu Ramadan,
antarkan kita ke surau suci di tengah telaga dengan
segenap iman. Tanpa pamrih,
rembulan malam turut antarkan kita terawih
Sandal dan sepatu baru,
bawa saja kalau kalian mau.
Dijamin tidak hilang, sampai kita pulang
Bila kita punya rencana
pindahkan surau suci itu ke tengah kampung kita,
mudah saja
Asalkan, sudah siapkah kita menjaganya
dengan melaksanakan
ibadah puasa dan
terawih sebulan penuh di Bulan Ramadan?
Selain itu, solat lima waktu meski bagus
sampai batas usia kita mengelus
Kalau tidak sakit, tidak pula keluar kampung,
selalulah solat di surau suci itu dengan mengusung
rasa beruntung sebesar gunung
Jujur yang tumbuh subur dalam diri, jangan lalu lebur
Rasa peduli, tidak boleh mati
Kerukunan, jagalah dengan baik turun temurun
Jangan mau dirangkul tahayul
Itulah syarat-syarat yang perlu diingat
Rasanya aneh ya, ikhwan dan akhwat!
Biasanya menjaga surau dilakukan bila
jam dinding, kipas angin, pengeras suara
terancam keamanannya
Bagiku, tidak aneh
Yang aneh, (sepertinya) yang merasa aneh
Di Bulan Suci, setan dibelenggu
Keamanan, terjaga sepanjang waktu
Di luar Bulan Suci, tergantung pada kita sendiri.
Makanya, surau suci itu mesti
dijaga dengan sepenuh kejujuran yang ada dalam diri,
agar jam dinding, kipas angin, pengeras suara,
tidak pergi ke mana-mana.”
Sorong, 13 Juli 2015































27.
Andrian Eksa

RAMADHAN PENUH AMPUNAN

marhaban ya ramadhan
kusambut kau dengan kesungguhan
hati bersih nan berseri
sebab kau datang menghampiri

kutahu kau adalah cinta
yang tersebar di alam semesta
meski hanya satu bulan
hadirmu itu penuh imbalan

kami hanyalah umat manusia
yang pandai berbuat sia-sia
tapi hadirmu membawa sadar
bulan ramadhan, ampunan-Nya berpendar

Boyolali, Juli 2014



















28.
Syarif hidayatullah


Ayat-Mu di kerlip Malam
-Nuzulu Qur’an

Ada malam denyutku terhenti di pemikiran
Tentang sejarah ribua abad silam, di saat angin hening
Meteor diam, pohon tentram, alam berdamai pada diri sendiri
Tak ada hujan, daun jatuh, seta kebisingan suara langit
Ayat-ayat Tuhan turun ke dada, merasuk ke seluruh sendi kehidupan
Tentang hukum, kenikmatan bahkan ancaman
Berkelana hingga detik ini

Orang-orang melantunkan kitab-Mu Tuhan
Dari Hizaz, Bayati hingga alunan nada yang tak ku mengerti
Dalam terkantuk ku dengar seruanmu
Di kerlip lilin di kelam malam

Ada rindu di suguhi malam
Kepada sang pemilik teguh
Di dalam mesjid megah
Hingga surau hampir roboh
Dari kota yang seolah tak mengenal malam
Sampai jangkrik dan katak bersahutan di ujung dusun
Ayat-Mu ada pada jantung denyut kehidupan

Nuzulul Qur’an
Dalam malam seribu bulan




 29
Didi Kaha

Ramadhan ke-3


di titik ini
aku masih saja merasa sepi
: waktu bagai sebilah pisau tumpul dan berkarat
yang tak mampu juga mengiris dan menyingkirkan
nafsu dan angkara
yang masih kuat melekat
menggelayuti raga dan jiwa
puasaku masih juga hanya menemu
lapar dan dahaga


























30.
Mahbub Junaedi

EMBUN DI PADANG MAHSYAR

pagi yang sama, seperti kemarin, matahari masih bangun dari timur
tapi arahku belum pasti, akan kemana memuara
memeluk laut? atau hilang tertelan bumi
sebagaimana alur yang kini terus berpindah
embun, masihkah asyik bergelayut pada daun yang selalu terdengar kumandang dzikir? Selagi belum gugur dan sebongkah nyawa melayang. Kilaumu di musim kemarau sangat kontras dengan kegersangan. Lamat-lamat hilang tertimpa sinar yang menyengat, serupa padang mahsyar menggetar setiap hati yang gentar. kecuali jika amal menjelma segumpal awan menaungi hari-hari yang sangat lama menunggu hisab. Embun, setetespun sangat berarti menyirap dahaga.

ah.. secara perasaan masih pagi,
hembusan angin kering, teringat kerling mimpi semalam
masih dalam setengah sadar dan tidak
digelandang menuju Sirathal Mustaqim
220813











31.
Iin Nuraini

Ramadhan

AYAT 1
Kalender sakral dalam angka :
Sajak kembali suci lewat kata, wajah, warna, juga sampah
Ucap dalam adat kembali bangkitkan ritual sesaat :
“jauhkan anak cucu adam dari sesat”

AYAT 2
Iqro ....
Kami buta aksara Gusti. Jika waktu adalah evolusi mengeja aksara...jangan kirim nabi-nabi di kotak TV

AYAT 3
Manusia-manusia bebal . Sedia karena hadiah. Manusia yang selalu kehilangan. Konyol dalam fiksi asyik. Kelak bakal kiamat. Hingga Tuhan datang dengan hadiah : Ramadhan dengan kemilau bintang-bintang kecil. Lihat mereka, kerlip-kerlip manusia bersujud, pasrah hati. Kelak diberikan padamu yang rindu. Yang tak tergesa-gesa meski bara tak lekas padam

[ Ramadhan_juli 2015 ]











32.
Ali Syamsudin Arsi

SUJUD LUBANG KEMBALI

geriap deru
bulu tangan diam embun
episode demi episode
bermekaran di lingkaran retina mata
sedih menjadi sunyi di sini
sedih menjadi ujung hari
derap demi derap lesap perlahan
senja
sudah terbuka bias warna jingga
halaman catatan
suara-suara dalam rekam perjalanan
bila banyak malam terabaikan
semakin malam semakin malam semakin malam semakin
kembali
/asa, banjarbaru, 12 mei 2015




















33.

Hasan Bisri BFC

INGIN KUDEKAP 1000 BULAN

ingin kudekap 100 bulan
tapi selalu saja terlepas
oleh mata pandang gelandangan
yang menyisir tetumpukan sampah
sudah kucoba mengekang kuda nafsu
yang meringkik-aringkik di setiap sudut
jantung waktu
juga ludah kata-kata yang senantiasa mau merucut
dari mulut
dan busung dada yang selalu kuredam
dengan berat godam
maka pada malam yang pekat
aku berharap menjaring bintang-bintang
agar reruntuhan cahayanya meredam
bara hati berkarat
tapi selalu saja luput kutangkap
1000 bulan impian yang diselipkan
pada angka-angka ganjil
di sepuluh malam terakhir
Robbi, kepadaMU aku bisa bangga berkaca
tapi kepada sesama, aku tak berarti apa-apa

Jakarta, 23 Juli 2015










34.
Riswo Mulyadi

MENCARI RAMADLANKU

ramadlanku,
aku mencarimu, sungguh
di mana kau berada?
jika dalam lapar, hausku tak kutemukan
apakah engkau sembunyi di balik sajadah?
tadi malam, aku membolak-balik sajadah
kaki-kakiku melekat sepanjang taraweh
tak kurasakan detak nadimu
lalu di mana kau mukim?
di subuh tadi
kutelisik seluruh ruang sepi hingga ke sisi masjid
mencari denyutmu
belum juga terasa
mungkin, aku mati rasa

atau engkau bersemayam dalam puasaku?
(aku mulai ragu)
apakah aku berpuasa jika seharian menguliti aib saudaraku
apakah laparku ini puasa,
jika seharian aku tertidur memeluk waktu
apakah hausku ini puasa,
jika dari subuh hingga asar tenggorokanku basah oleh gosip-gosip
aku coba sisi lain,
akhir-akhir ini mulai nampak keramaian di jalan-jalan
di pasar dan pertokoan
lalu sesekali pula terdengar suara petasan
apa kau di sana bersama mereka?
aku masih terus mencari
sampai denyutmu terasa di dada nadiku
aku masih saja bertanya
sambil terus memimpikan sorga
atau Idul Fitri, paling tidak

Karanganjog, 27 Ramadlan 1436 H



35.
Eddie MNS Soemanto

ALANGKAH BERAT BERPISAH DENGANMU

lorong malam
hujan membangun riuh
di ujung ramadhan
ladang sunyi bahasa
berbaris jejak i'tikaf
penyair kehabisan air mata
kehilangan ruh doa
rentetan peristiwa, tumpukan masalah,
dan pecahan-pecahan beling
mungkin ibadah lain yang kuulang
hingga tulangku menempuruk
dalam sujud yang basah
padamu semata
kutuang pinta pilu jiwa
marwah ramadhan
bulan rahmat penuh ampunan
malam lailatul qadar
limpahan-limpahan pahala
o matahari melafazkan panas
zikir yang panjang
aku hampir sampai
mungkin kita
tak ada pengecualian
ke batas yang tak pernah tahu
dan ramadhan itu melambaikan tangan
mengucapkan salam
dalam isak lirihku
Padang, Juli 2015





36.
Aris Rahman Yusuf
BAJU BARU
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
karena baju- baju bersih
masih tersimpan rapi di lemari
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
karena lembar-lembar uang di saku
hanya cukup untuk beli sedikit kerupuk
untuk hidangan tamu nanti
ramadan terakhir
berikan aku hati yang baru
tunjukkan jalan rezeki
tunjukkan langkah menuju bidadari
untuk menuju-Mu
untuk mencapai-Mu
tak ada baju baru
untuk lebaran tahun ini
Mojokerto, 14072015



















37.
ARIF KHILA
IZINKAN AKU BERPERANG
Tuhan …
Izinkan aku berangkat berperang
Dalam bulan suci yang engkau janjikan
Tanpa meriam
Senapan
Ataupun parang

Ramadhan telah datang
Hilal jelas menyapa
Penanda awal kita akan berangkat.
Tak ada bunuh membunuh
Hanya tiap-tiap waktu terus menahan
Pada nafsu yang terus membara
Lebih berbahaya dari setan yang berhenti menggoda.
Tuhan …
Diakhir perang
Izinkan aku sedikit berpesta
Melebur dalam takbir
Diawal syawal yang mulai terlihat.
Tersenyum bahagia
Kemenangan telah dikabarkan
Berbagi zakat sebagai pelengkap
Tuhan …
Izinkan aku tetap berperang
Pada bulan yang sama ditahun depan.










38.
SIAPAKAH MANUSIA SEMPURNA?
aku membaca dalam al quran
Allah selalu mengabarkan
kepada Muhammad rasul Allah
sebagai perantara umat dan Allah
Allah jadikan Muhammad lelaki pilihan
pemimpin para lelaki dan perempuan
manusia makhluk berkurang lebih
kalau tak kurang tentu berlebih
kalau bukan hanya kurang ilma
tentu berlebihlebih laku rianya
sungguh tidak mutlak sempurna
sombong salah satu yang menguranginya
dalam al quran ada larangan dan perintah
untuk dipatuhi manusia agar hidup damai
wahyu melewati MUhammad rasul Allah
dismpaikan kepada manusia agar jangan lalai
larangan dan perintah sebagai penyempurna
segala kekurangan pada manusia
bukan hanya untuk perempuan yang dihina
juga buat lelaki yang merasa manusia adiguna
istri yang perempuan bersurga di kaki lelaki
lelaki seperti apakah yang jadi surga istri
di kaki ibu yang perempuan jadi surga anak lelaki
ibu yang semacam apakah jadi surga anak lelaki
larangan dan perintah sebagai penyempurna
segala kekurangan pada manusia
dalam al quran ada larangan dan perintah
untuk dipatuhi manusia agar hidup sempurna
girci kalibata

28 Ramadhan 1436




39.
Kurnia Fajar
SAAT

Tiba juga saat dinanti
Tuntas penjalanan menuju fitri
Tapi jangan artikan ini suci

Tiba juga saat dinanti
Jabat tangan
Maaf memaafkan
Tapi jangan artikan kertas putih kembali

Tiba juga saat dinanti
Tapi jangan artikan kita lahir kembali
Jika tak mampu perbaiki
Pada laku setelah ini